Oleh. H. M.Ali.S.Ag., MM.
(Ketua Pokjaluh Provinsi Lampung)
Dalam perjalanan tugas saya sebagai Penyuluh Agama, ada satu fase yang hingga kini membekas kuat dalam ingatan. Pada masa itu, ada honor penyuluh masih ada yang berada di angka Rp500.000 per bulan. Angka yang tentu sangat terbatas, namun justru menjadi ruang pembelajaran yang berharga tentang makna rezeki dan keberkahan; hal ini terungkap ketika ada kesempatan berbincang dengan salah satu penyuluh yang saat itu diajak diskusi tentang program “Penyuluh Berbagi”.
Di tengah keterbatasan kita, kami para penyuluh selalu diingatkan akan satu prinsip penting, bahwa sebesar atau sekecil apa pun rezeki yang diterima, di dalamnya terdapat hak orang lain yang harus disisihkan. Prinsip ini menjadi penguat dalam menjalani tugas, sekaligus pengingat bahwa keberkahan tidak semata ditentukan oleh besarnya nominal.
Kami menyadari bahwa memberi dalam kondisi serba cukup mungkin terasa ringan, namun memberi dalam keterbatasan menuntut keyakinan dan keikhlasan yang lebih dalam. Mungkin ini yang disiratkan dalam Qs. Ali Imron 134
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit”
Dari sinilah saya belajar memahami sebuah nilai sederhana yang kemudian saya sebut sebagai “Falsafah Keran Air”.
Keran air tidak akan mengalir jika tertutup. Namun ketika dibuka, air akan mengalir sesuai dengan kadar bukaan tersebut. Demikian pula dengan rezeki. Ketika kita membuka ruang untuk berbagi, meskipun dari jumlah yang kecil, maka Allah SWT akan membuka jalan rezeki dari berbagai arah.
Alhamdulillah, pengalaman ini saya (khususnya) bisa rasakan secara nyata. Rezeki yang kami terima tidak pernah benar-benar terhenti. Selalu ada kemudahan, kecukupan, dan pertolongan yang datang pada waktu yang tepat. Tidak selalu dalam bentuk materi, tetapi juga berupa ketenangan, kesehatan, serta kelancaran dalam menjalani tugas dan kehidupan.
Pengalaman ini kemudian menjadi pengingat sekaligus penyemangat, baik bagi saya pribadi maupun bagi sesama penyuluh agama. Bahwa tugas penyuluh bukan sekadar menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga menghadirkan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Kisah ini menegaskan bahwa pengabdian sebagai penyuluh agama tidak diukur dari besar kecilnya honor, melainkan dari keikhlasan dalam menjalankan amanah. Ketika kran kebaikan terus dibuka untuk orang lain, insyaallah aliran rezeki dan keberkahan akan senantiasa terjaga.
Editor: Abdul Aziz
