Search

Catatan Kakanwil

Insya Allah: Manifestasi Kepasrahan dan Ketundukan Terhadap Kuasa-Nya

insya-allah-manifestasi-kepasrahan-dan-ketundukan-terhadap-kuasa-nya
Fotografer: Humas Kanwil

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar atau mengucapkan kata "Insya Allah." Ungkapan ini tampak sederhana dan sering kali diucapkan tanpa berpikir panjang, namun sebenarnya memiliki makna yang sangat dalam dan luas. "Insya Allah" bukan sekadar janji atau tanda kesopanan, melainkan sebuah manifestasi kepasrahan dan ketundukan kita terhadap kuasa Allah SWT. 

Makna "Insya Allah" berkaitan erat dengan keyakinan bahwa manusia hanya mampu merencanakan, tetapi Allah-lah yang menentukan. Allah SWT menegaskan dalam QS. Al-Kahf, 18:23-24:

 

*وَلَا تَقُولَنَّ لِشَيْءٍ إِنِّي فَاعِلٌ ذَٰلِكَ غَدًا  إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ*

"Dan jangan sekali-kali kamu mengatakan terhadap sesuatu, 'Sesungguhnya aku akan mengerjakan itu besok pagi,' kecuali (dengan menyebut) 'Insya Allah.'"

Ayat ini menyiratkan bahwa di balik setiap rencana manusia, ada kehendak Allah yang mutlak. Kalimat "Insya Allah" adalah pengingat bagi kita bahwa tiada sesuatu pun yang terjadi tanpa izin dari-Nya. Ketika kita mengucapkan "Insya Allah," kita sedang menyerahkan segala hasil usaha kita kepada kuasa Allah, mengakui bahwa kemampuan kita sangat terbatas tanpa pertolongan-Nya.

Contoh konkret dari pentingnya menyertakan kehendak Allah dalam setiap rencana kita dapat ditemukan dalam kisah Nabi Sulaiman AS yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. dalam hadits yang sahih dari Bukhari dan Muslim. Diriwayatkan:

 

**عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: قَالَ سُلَيْمَانُ بْنُ دَاوُدَ لَأَطُوفَنَّ اللَّيْلَةَ عَلَى سَبْعِينَ امْرَأَةً، كُلُّ امْرَأَةٍ تَلِدُ غُلَامًا يُقَاتِلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَقَالَ لَهُ صَاحِبُهُ: قُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَلَمْ يَقُلْ إِنْ شَاءَ اللَّهُ، فَلَمْ تَلِدْ مِنْهُنَّ إِلَّا امْرَأَةٌ وَاحِدَةٌ نِصْفَ إِنْسَانٍ، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "لَوْ قَالَهَا لَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَبْنَاءُهُ"

Dari Abu Hurairah ra. dari Nabi saw. bersabda: "Nabi Sulaiman bin Daud berkata, 'Suatu malam aku akan menggilir (jima) tujuh puluh orang istriku yang setiap istriku itu akan mengandung (dan melahirkan) seorang penunggang kuda, yang akan berjihad di jalan Allah.' Kemudian temannya berkata kepadanya, 'Ucapkanlah Insya Allah (Jika Allah menghendaki).' Namun Nabi Sulaiman tidak mengucapkannya sehingga tidak ada satu pun istrinya yang mengandung kecuali satu orang yang kemudian melahirkan anak yang dadanya hilang sebelah/berbadan sebelah. Lalu Nabi saw. bersabda, 'Seandainya dia mengucapkan Insya Allah pasti anak-anaknya itu akan berjihad di jalan Allah.'" (HR. Bukhari No. 3424 dan Muslim No. 1654).

Hadits ini memberikan pelajaran penting bahwa sekuat apapun keinginan kita, sebesar apapun usaha yang kita lakukan, semuanya akan sia-sia tanpa kehendak Allah. Nabi Sulaiman AS, yang dikenal sebagai nabi dengan kekuasaan dan kekayaan yang luar biasa, tetap terikat pada aturan Allah. Tanpa mengucapkan "Insya Allah," rencana besar beliau tidak berjalan sesuai dengan yang diharapkan.

Ucapan "Insya Allah" mengingatkan kita untuk selalu menempatkan Allah di pusat setiap keputusan dan rencana kita. Ini adalah bentuk kepasrahan yang aktif, di mana kita berusaha sebaik mungkin, namun tetap menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah. Kepasrahan ini tidak berarti kita tidak perlu berusaha; sebaliknya, kita berusaha dengan keyakinan bahwa hasilnya ada di tangan Allah.

Di dunia yang penuh dengan ketidakpastian ini, "Insya Allah" menjadi pegangan kita untuk tetap tenang dan yakin bahwa apapun yang terjadi adalah bagian dari rencana terbaik Allah. Ketika kita mengucapkan "Insya Allah," kita meyakini bahwa Allah mengetahui apa yang terbaik untuk kita, meskipun itu mungkin berbeda dari apa yang kita harapkan.

Maka dari itu, mari kita jadikan "Insya Allah" bukan sekadar ungkapan kosong, tetapi sebagai wujud nyata dari ketundukan dan kepasrahan kita kepada Allah SWT. Semoga setiap langkah kita, yang selalu disertai dengan kalimat ini, menjadi berkah dan mendapat ridha dari Allah. Insya Allah.

Oleh : Puji Raharjo - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil