Semakin bertambah usia, kita mulai menyadari bahwa ternyata manusia bukan hanya mencari kehidupan yang layak, tetapi juga mencari ketenangan. Sebab ada banyak orang yang hidupnya terlihat baik-baik saja, tetapi jiwanya lelah. Ada yang hartanya cukup, keluarganya lengkap, pekerjaannya baik, tetapi hatinya tetap gelisah. Seolah ada ruang kosong dalam dirinya yang tidak pernah benar-benar terisi.
Kita pun mulai bertanya: sebenarnya apa yang sedang dicari oleh hati ini? Barangkali selama ini jiwa kita sedang mencari jalan pulang.
Bukan pulang ke rumah, bukan pula pulang ke kampung halaman, tetapi pulang kepada tempat di mana hati merasa tenang. Dan tempat itu tidak lain adalah kedekatan dengan Allah.
Karena sesungguhnya manusia berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Maka hati manusia tidak akan benar-benar tenang selama ia jauh dari Tuhannya. Semakin jauh hati dari Allah, semakin mudah hidup terasa sempit, meskipun secara lahir terlihat lapang.
Allah telah mengingatkan: “Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sungguh dia akan menjalani kehidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124)
Ayat ini bukan hanya berbicara tentang kemiskinan atau kesulitan hidup. Banyak orang yang hidup berkecukupan tetapi tetap merasa sempit dalam jiwanya. Hidup terasa berat, pikiran tidak tenang, dan hati sulit merasa damai. Karena ternyata kesempitan hidup tidak selalu terjadi pada dompet, tetapi sering terjadi pada hati.
Di sisi lain, ada orang yang hidup sederhana, tetapi wajahnya tenang. Mungkin hartanya tidak banyak, tetapi hatinya lapang. Ia bisa menikmati hidup, mensyukuri yang ada, dan tidak sibuk membandingkan dirinya dengan orang lain.
Apa bedanya…? Bedanya adalah kedekatan.
Orang yang dekat dengan Allah akan memiliki tempat kembali ketika hidup terasa berat. Ia punya sandaran saat kecewa, punya tempat mengadu saat lelah, dan punya kekuatan untuk bertahan saat keadaan tidak baik-baik saja.
Karena itu, ketenangan sejati tidak lahir dari banyaknya yang kita miliki, tetapi dari dekatnya hubungan kita dengan Allah. Allah sendiri memberikan jaminan: “Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Ayat ini seperti jawaban bagi seluruh kegelisahan manusia. Bahwa hati memang diciptakan untuk dekat dengan Allah. Maka ketika ia jauh, ia akan gelisah. Dan ketika ia kembali dekat, ia akan menemukan ketenangan.
Yang indah, Allah tidak pernah menutup pintu kedekatan itu. Bahkan Allah selalu membuka jalan bagi siapa saja yang ingin kembali.
Dalam sebuah hadis qudsi Rasulullah saw bersabda bahwa Allah berfirman: “Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal, maka Aku akan mendekat kepadanya sehasta. Jika ia mendekat kepada-Ku sehasta, maka Aku mendekat kepadanya sedepa. Dan jika ia datang kepada-Ku berjalan, maka Aku datang kepadanya berlari.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadis ini begitu menenangkan. Seakan Allah ingin mengatakan bahwa Dia tidak pernah menjauh dari kita. Justru seringkali kitalah yang menjauh. Dan ketika kita mulai melangkah untuk kembali, Allah menyambutnya dengan kasih sayang yang jauh lebih besar. Karena itu jalan pulang sebenarnya tidak serumit yang kita bayangkan.
Ia dimulai dari hal-hal sederhana: kembali menjaga shalat, kembali dekat dengan masjid, kembali membaca Al-Qur’an, kembali berzikir, kembali berdoa dengan sungguh-sungguh, dan kembali menghadirkan Allah dalam kehidupan sehari-hari.
Semakin dekat kita kepada Allah, hidup memang tidak selalu menjadi mudah. Masalah tetap ada, ujian tetap datang, dan air mata tetap mungkin jatuh. Tetapi hati menjadi berbeda. Lebih kuat, lebih lapang, dan lebih mampu menerima kehidupan dengan ikhlas.
Sebab orang yang dekat dengan Allah tidak selalu hidup tanpa masalah, tetapi ia tidak menjalani masalah itu sendirian.
Maka jika hari ini hati kita terasa lelah, pikiran terasa penuh, dan hidup terasa sempit, mungkin bukan karena terlalu banyak masalah. Bisa jadi karena jiwa kita terlalu jauh dari tempat pulangnya.
Dan sesungguhnya… jalan pulang itu bernama kedekatan kepada Allah. (*)