Oleh: Dr. H. Erwinto, S.Ag., M.Kom.I
Kepala Bidang Penais Zawa
Suatu hari, dalam sebuah percakapan sederhana, saat itu aku sedang duduk di halam Pasca UIN Raden Intan, seorang dosen yang aku kenal seorang Dekan pada salah satu Fakultas UIN Raden Intan, beliau bertanya kepadaku dengan nada tenang namun penuh makna.
“ Sedang apa ustadz ? ”
“Menunggu anak dan istri kuliah Kyai”, jawabku datar.
“Kenapa tidak melanjutkan S3?”
Aku tersenyum tipis, lalu menjawab apa adanya.
“Tidak ada gunanya lagi, Kyiai. S3 itu biasanya untuk kenaikan golongan/ruang ke 4b, sementara saya sekarang sudah 4/b.”
Beliau menatapku lama. Bukan dengan tatapan menghakimi, tapi seperti seseorang yang sedang menimbang kata-kata agar tepat mengenai sasaran.
“Anda salah,” katanya pelan namun tegas.
“Menuntut ilmu itu bukan untuk pangkat dan golongan. Menuntut ilmu adalah kewajiban seorang muslim, dari ayunan sampai ke liang lahat.”
Aku terdiam sejenak, lalu mencoba jujur dengan kegelisahanku.
“Benar, Kyai. Tapi gaji saya sudah terukur. Pengeluaran justru lebih besar dari pemasukan. Saya tidak sanggup membayar SPP S3, sementara Istri dan anak-anak berlomba untuk kuliah. Saya mengalah dulu kyiai”
Beliau menghela napas, lalu berkata sesuatu yang hingga hari ini masih terngiang jelas di telingaku.
“Ini jawaban yang lebih salah lagi.”
“Kalau begitu, berarti Anda tidak yakin bahwa Allah Maha Kaya.”
Aku tercekat.
“Ketahuilah,” lanjut beliau,
“Tugas hamba hanyalah berusaha, bukan menentukan hasil. Kalau Anda berpikir seperti itu, berarti Anda merasa diri Andalah Tuhan yang mengatur rezeki istri, dan anak-anak Anda.”
Kalimat berikutnya menusuk lebih dalam.
“Padahal tanpa anda pun, dunia tetap berjalan. Anda wafat hari ini, esok anak dan istri tetap kuliah, tetap makan. Bahkan jabatan Anda saat ini, besok langsung diganti. Semua itu Allah yang mengaturnya, bukan oleh kita. Apalagi soal rezki, yakin tidak pernah akan tertukar”
Aku tertunduk. Kata-kata itu menghantam kesadaranku. Perlahan bibirku bergetar, istighfar mengalir tanpa sadar.
“Astaghfirullah… Ya Allah, ampunilah aku.”
Saat itu juga, di dalam hati, aku mengambil keputusan besar: aku akan melanjutkankuliah ke jenjang S3 walaupun masa kerja tinggal 4 tahun lagi.
Tiga Tahun kemudian aku membuktikan Janji Allah
Tiga tahun berlalu.
Dan apa yang dikatakan Kyiai, ternyata benar, sepenuhnya benar.
Aku menyelesaikan studi S3.
Istriku dan anak pertamaku menyelesaikan S2 mereka setahun sebelumnya.
Anak keduaku menuntaskan pendidikan kedokterannya.
Anak ketigaku menjalani studi di Universitas Al-Azhar, Kairo. Insya Allah tahun ini selesai.
Dan putra bungsuku kini semester lima kedokteran.
Tidak ada yang kurang. Tidak ada yang terlantar.
Bukan karena aku hebat. Bukan karena perhitunganku cermat.
Melainkan karena satu hal:
Allah mencukupkan.
Pelajaran yang Tak Akan Pernah Usai.
Sejak hari itu aku memahami satu kebenaran sederhana namun mendalam:
Manusia hanya berkewajiban berusaha.
Allah-lah yang menjamin kecukupan.
Ketika niat diluruskan, ketika ilmu dikejar bukan demi pangkat tetapi demi amanah, dan ketika keyakinan benar-benar diserahkan kepada Allah, maka jalan akan dibukakan dari arah yang tak pernah kita sangka.
Dan aku bersaksi:
Janji Allah itu nyata.
Editor: Abdul Aziz
