Search

Kisah Inspiratif

Ketika Terbangun dari Mimpi

ketika-terbangun-dari-mimpi
Fotografer: Humas Kanwil

Oleh: H. M.Ali
Ketua Pokjawas Provinsi Lampung

Kita kenal pahlawan besar seperti bung Tomo, jendral Sudirman dan masih berderet pahlawan besar yang lahir dari ketulusan dan pengabdian yang panjang tak berbatas ya mungkin melampaui rasa asa yang dimilikinya, ingin rasanya belajar dan menjiwai maknanya dari para panutan dalam bingkai pahlawan hati.

Ada satu pertanyaan dalam benak saya, mengapa pahlawan bangsa bisa begitu tulus mengabdikan dirinya untuk bangsa. Seperti batu pualam yang kokoh bercerita tentang keteguhan hati, begitu juga cerita tentang kita para pengabdi (ASN) di Kementerian Agama; mungkin karena mereka janji dalam diri untuk terus berbakti sebagai bentuk pengabdian. 

Yang  kurang pas ini saya, karena pernah timbul perasaan sudah mengabdikan yang terbaik, padahal jawabannya belum tentu (sambil senyum), mungkin manusiawi karena pengabdian panjang ini masuk di usia ke 20 tahun pengabdian, mimpi itu seperti menilai sendiri dan mimpi ini seperti kisah yang berulang.

Saya teringat kisah kelompok bani Asad pada masa awal Islam. Sebagian dari mereka masuk Islam dengan membawa kebanggaan sosial, kedudukan, dan pengaruh. Ada perasaan bahwa Islam menjadi besar karena keislaman mereka. Maka Allah SWT menurunkan firman-Nya sebagai pelurusan:

يَمُنُّونَ عَلَيْكَ أَنْ أَسْلَمُوا ۖ قُلْ لَا تَمُنُّوا عَلَيَّ إِسْلَامَكُمْ ۖ بَلِ اللَّهُ يَمُنُّ عَلَيْكُمْ أَنْ هَدَاكُمْ لِلْإِيمَانِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah-lah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada iman, jika kamu orang-orang yang benar.”(QS. Al-Hujurat: 17)

Ayat ini perlahan mengetuk kesadaran saya. Bahwa iman adalah karunia, dan amanah adalah kepercayaan. Bukan Islam yang membutuhkan manusia, tetapi manusialah yang membutuhkan Islam. Bukan negara yang membutuhkan saya, tetapi saya-lah yang diberi kesempatan oleh negara untuk mengabdi.

Ketika Allah mengizinkan saya menjadi penyuluh agama fungsional (aparatur sipil negara) di Kementerian Agama, sejatinya itu bukan pengakuan atas kehebatan pribadi, melainkan tugas untuk memperbesar manfaat dan memperdalam tanggung jawab. Status bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk dipertanggungjawabkan.

Kesadaran ini membuat saya belajar menundukkan ego, memperhalus niat, dan menyederhanakan cara pandang. Bahwa jabatan, gelar, dan kedudukan hanyalah sarana. Nilainya ditentukan oleh seberapa jauh ia mendekatkan diri kepada Allah dan menghadirkan manfaat bagi umat.

Sebagai penyuluh agama, pelajaran ini sangat penting. Karena dakwah tidak tumbuh dari rasa merasa paling berjasa, tetapi dari kerendahan hati dan ketulusan melayani. Justru ketika kita merasa kecil di hadapan amanah, di situlah Allah membesarkan peran kita.

Kini saya meyakini satu hal:

bukan negara yang beruntung mengangkat saya, tetapi sayalah yang beruntung diberi kesempatan mengabdi melalui negara. Sebuah nikmat yang harus terus dijaga dengan kerja ikhlas, belajar tanpa henti, dan melayani tanpa pamrih.

Semoga kesadaran ini melekat dan menjadi pengingat bagi saya pribadi dan menjadi inspirasi bagi sesama penyuluh agama, agar setiap amanah dijalani dengan hati yang bersih dan niat yang lurus. (wallahu a’lam bi showab)


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil