Istighfar, atau memohon ampun kepada Allah, adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Dalam Al-Qur'an, Allah mengingatkan kita pentingnya memperbanyak istighfar untuk mendapatkan keberkahan dan keselamatan. Salah satu ayat yang menekankan hal ini adalah QS. Hüd, 11:52:
"وَيَا قَوْمِ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا وَيَزِدْكُمْ قُوَّةً إِلَى قُوَّتِكُمْ وَلَا تَتَوَلَّوْا مُجْرِمِينَ"
"Dan (Hud berkata), 'Wahai kaumku! Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling (dari-Nya) dengan berbuat dosa.'"
Ayat ini mengajarkan bahwa dengan memperbanyak istighfar dan bertobat, Allah akan memberikan kita banyak keberkahan, baik secara jasmani maupun rohani.
Lebih jauh lagi, dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Rasulullah saw. bersabda:
"إِنَّهُ لَيُغَانُ عَلَى قَلْبِي، وَإِنِّي لَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ فِي الْيَوْمِ مِائَةَ مَرَّةٍ"
"Sesungguhnya hatiku tidak pernah lalai dari zikir kepada Allah, sesungguhnya Aku beristighfar seratus kali dalam sehari." (HR. Muslim No. 2702)
Hadits ini menunjukkan betapa pentingnya istighfar dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah saw., yang meskipun telah diampuni dosanya, tetap beristighfar seratus kali setiap hari. Ini adalah teladan yang sangat kuat bagi kita untuk tidak pernah melupakan pentingnya memohon ampun kepada Allah dalam setiap langkah kehidupan kita.
Dalam kisah Nabi Nuh a.s. yang diabadikan dalam QS. Hüd, 11:46-47, kita juga melihat betapa pentingnya istighfar dan memahami hakikat doa kita kepada Allah. Allah berfirman kepada Nuh:
"قَالَ يَا نُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ فَلَا تَسْأَلْنِ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنِّي أَعِظُكَ أَنْ تَكُونَ مِنَ الْجَاهِلِينَ"
"Dia (Allah) berfirman, 'Wahai Nuh! Sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu, karena perbuatannya sungguh tidak baik, sebab itu jangan engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui (hakikatnya). Aku menasihatimu agar (engkau) tidak termasuk orang yang bodoh.'"
Dan Nuh menjawab:
"قَالَ رَبِّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أَسْأَلَكَ مَا لَيْسَ لِي بِهِ عِلْمٌ وَإِلَّا تَغْفِرْ لِي وَتَرْحَمْنِي أَكُنْ مِنَ الْخَاسِرِينَ"
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu untuk memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui (hakikatnya). Kalau Engkau tidak mengampuniku, dan Engkau tidak memberi rahmat kepadaku, niscaya aku termasuk orang yang rugi."
Ayat ini mengajarkan kita untuk senantiasa bersikap rendah hati dan sadar akan keterbatasan pengetahuan kita ketika berdoa. Memohon ampun kepada Allah bukan hanya tentang menghapus dosa, tetapi juga tentang mengakui kebesaran-Nya dan kerendahan hati kita sebagai hamba-Nya.
Dengan memperbanyak istighfar, kita membersihkan hati dan jiwa kita dari dosa-dosa, membuka pintu keberkahan, dan mendekatkan diri kepada Allah. Ini adalah amalan yang membawa banyak manfaat dalam kehidupan dunia dan akhirat. Mari kita jadikan istighfar sebagai bagian tak terpisahkan dari rutinitas harian kita, mengikuti jejak Rasulullah saw. dan para nabi terdahulu, agar hidup kita senantiasa dipenuhi dengan rahmat dan keberkahan dari Allah.
Puji Raharjo, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung
