Imam Al-Ghazali dalam mahakaryanya, Ihya Ulumuddin, memberikan perhatian besar pada pentingnya menjaga lisan. Baginya, lisan bukan sekadar alat komunikasi, tetapi cermin dari hati dan jiwa seseorang. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, sebagaimana dikutip Al-Ghazali:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Artinya: "Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam." (HR. Bukhari-Muslim)
Sabda ini menegaskan bahwa mengontrol ucapan adalah bagian integral dari keimanan.
Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali mengidentifikasi sejumlah bahaya yang dapat timbul dari lisan yang tidak dijaga. Di antaranya adalah dusta, di mana kebohongan, baik dalam hal kecil maupun besar, adalah dosa besar yang dapat merusak kepercayaan. Bahaya lain adalah ghibah atau menggunjing, yang dijelaskan Al-Ghazali sebagai menyebut keburukan orang lain yang tidak disukainya, meskipun itu benar. Hal ini berlandaskan firman Allah dalam Al-Qur’an surah Al-Hujurat ayat 12:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ
Artinya: "Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah seorang di antara kalian suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kalian merasa jijik).
Selain itu, Al-Ghazali memperingatkan bahaya namimah atau adu domba, yaitu ucapan yang memprovokasi pihak lain hingga memecah belah hubungan. Ini adalah dosa besar yang merusak tatanan sosial. Beliau juga menyoroti berbicara tanpa ilmu sebagai bentuk ucapan yang tidak didasari kebenaran, yang hanya membawa kerugian baik bagi diri sendiri maupun orang lain.
Dalam era digital, bahaya lisan yang dijelaskan Al-Ghazali semakin nyata. Media sosial telah menjadi arena besar untuk berbicara, sering kali tanpa kontrol. Hoaks, ujaran kebencian, ghibah dalam bentuk digital, hingga komentar provokatif menjadi tantangan besar di dunia maya. Penyebaran informasi palsu (hoaks) telah memicu konflik sosial dan politik di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Ujaran kebencian yang dilontarkan melalui media sosial sering kali menciptakan jurang perpecahan antarkelompok masyarakat.
Al-Ghazali mengajarkan beberapa prinsip penting dalam menjaga lisan. Beliau menekankan pentingnya berbicara seperlunya, karena setiap kata akan dimintai pertanggungjawaban. Umar bin Khattab pernah berkata:
مَنْ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ خَطَؤُهُ
Artinya: "Barang siapa yang banyak bicaranya, maka banyak pula kesalahannya."
Selain itu, Al-Ghazali memperingatkan agar menghindari perdebatan yang tidak bermanfaat, karena perdebatan tanpa tujuan hanya akan menimbulkan permusuhan. Untuk menjaga lisan dari ucapan sia-sia, beliau menganjurkan mengisi waktu dengan zikir, membaca Al-Qur’an, atau memberikan nasihat yang bermanfaat bagi orang lain.
Untuk menerapkan nasihat Al-Ghazali dalam kehidupan modern, khususnya di era digital, langkah-langkah berikut dapat dilakukan. Pertama, berpikir sebelum membagikan informasi dengan memverifikasi kebenaran informasi sebelum menyebarkannya. Firman Allah dalam surah Al-Hujurat ayat 6:
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا"
Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa berita, maka periksalah dengan teliti."
Kedua, menghindari ujaran kebencian dan ghibah online dengan berkomentar bijak serta tidak menghina atau merendahkan orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga, berlatih diam digital, yaitu dengan tidak memposting apa pun jika tidak ada hal baik yang ingin disampaikan. Diam adalah emas, bahkan dalam dunia maya.
Menjaga lisan adalah salah satu kunci keselamatan, baik di dunia maupun akhirat. Sebagaimana dikatakan Al-Ghazali, lisan adalah bagian tubuh yang paling kecil namun dapat menjadi sumber kebaikan atau keburukan yang besar. Dalam konteks modern, menjaga lisan tidak hanya berlaku pada ucapan langsung tetapi juga pada aktivitas kita di media sosial.
Nasihat Imam Al-Ghazali ini harus menjadi refleksi bagi kita semua dalam menggunakan lisan dan teknologi digital untuk kebaikan, bukan untuk menyakiti atau merusak harmoni. Semoga nasihat ini menginspirasi kita untuk lebih bijak dalam menjaga lisan dan perilaku, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Oleh : Puji Raharjo - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung
