Kontestasi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak tahun 2024 baru saja usai. Proses perjalanan politik ini penuh dengan dinamika, rencana, dan strategi yang dirancang oleh berbagai pihak. Sebagai manusia, kita diberi kemampuan untuk berpikir, berencana, dan berusaha. Ada yang menang. Ada yang harus menghadapi kegagalan. Namun, pada akhirnya, firman Allah menjadi pengingat:
"وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ"
Artinya: "Mereka membuat tipu daya, dan Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya." (Ali ‘Imran: 54)
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa sehebat apa pun strategi yang dirancang manusia, kehendak Allah-lah yang menjadi penentu. Bahkan jika ada upaya-upaya yang dirancang untuk menjatuhkan atau merugikan, Allah tetap memiliki rencana yang jauh lebih baik dan sempurna untuk membalasnya.
Dalam setiap kontestasi, tidak sedikit hati yang merasa kecewa ketika hasil tidak sesuai dengan keinginan. Namun, Allah kembali menenangkan kita melalui firman-Nya:
"وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ"
Artinya: "Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqarah: 216)
Allah Maha Tahu, sementara kita hanya bisa menilai dari apa yang tampak. Kekalahan atau kemenangan bukanlah akhir segalanya, melainkan bagian dari proses menuju kebaikan yang telah Allah rencanakan. Yang terpenting adalah bagaimana kita menerima keputusan-Nya dengan hati yang lapang dan terus berikhtiar menjaga harmoni.
Islam mengajarkan keseimbangan dalam menghadapi segala sesuatu. Kemenangan bukan alasan untuk bersikap jumawa dan merasa sombong, karena kemenangan sejatinya adalah amanah yang berat. Allah mengingatkan kita dalam firman-Nya:
"رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا"
Artinya: "Ya Tuhanku, masukkanlah aku secara masuk yang benar, dan keluarkanlah aku secara keluar yang benar, dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong." (Al-Isra’: 80)
Kemenangan seharusnya diiringi dengan rasa syukur dan kesadaran bahwa amanah ini harus dijalankan dengan jujur dan bertanggung jawab. Sebaliknya, kegagalan juga tidak boleh membuat kita putus asa. Kegagalan mungkin menjadi jalan keluar terbaik dari fitnah yang lebih besar, atau kesempatan untuk memperbaiki diri dan mendekatkan diri kepada Allah.
Sikap jumawa berlebihan atas kemenangan atau putus asa berlebihan karena kegagalan bukanlah sikap yang diajarkan Allah. Keduanya merupakan bentuk ketidakseimbangan yang harus dihindari. Allah menginginkan kita untuk selalu tawakal dan percaya bahwa setiap ketetapan-Nya adalah yang terbaik.
Berserah diri kepada Allah adalah sikap terbaik yang dapat kita ambil dalam menghadapi hasil apa pun. Jika kemenangan yang kita dapatkan, semoga itu menjadi kebaikan bagi kita. Namun, jika kegagalan yang terjadi, yakinlah bahwa Allah sedang melindungi kita dari sesuatu yang tidak kita ketahui. Allah Maha Mengetahui, dan hikmah-Nya selalu melampaui pemahaman kita.
Semoga Pilkada ini menjadi pelajaran bagi kita semua untuk selalu menerima ketetapan Allah dengan ikhlas dan penuh keimanan. Karena pada akhirnya, hanya Allah yang mengetahui mana yang terbaik untuk hamba-hamba-Nya. Dan Allah adalah sebaik-baik pembuat rencana. Kita yang merencanakan, Allah yang menentukan.
Oleh : Puji Raharjo - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung
