Search

Dari Kue Itu, Ketua OSIS MAN 1 Pringsewu Belajar Kemandirian dan Perjuangan

dari-kue-itu-ketua-osis-man-1-pringsewu-belajar-kemandirian-dan-perjuangan
Fotografer: Humas Kanwil

Suasana pagi, saat Matahari malu-malu menampakkan diri, MAN 1 Pringsewu masih lengang. Sosok pelajar putri berjalan melewati koridor dengan langkah optimis. Selain tas yang berada di punggungnya, ia nampak menenteng kotak plastik berisi kue. Ya, kue itu akan ia pasarkan ke teman-temannya saat istirahat nanti. 

Baginya memilih untuk berjualan di sekolah, bukan karena kebutuhan ekonomi, melainkan dorongan kuat dalam dirinya untuk belajar arti kemandirian dan perjuangan. Setiap kue yang dijualnya memiliki makna tersendiri—sebuah simbol usaha dan komitmen yang ia bangun di sela-sela kesibukan sekolahnya.

Adalah Hida Diana siswi kelas XI A-1 MAN 1 Pringsewu yang memiliki cara yang berbeda dalam mengembangkan potensi dirinya. Tidak hanya berprestasi di bidang akademik namun ia juga aktif sebagai Ketua OSIS di sekolahnya. Ada lagi satu hal yang membuat Hida lebih istimewa di antara rekan-rekannya, Hida memilih untuk berjualan di sekolah. 

“Aku berasal dari keluarga yang biasa aja, nggak terlalu kaya tapi juga nggak kekurangan. Alhamdulillah semua kebutuhan tercukupi,” ujar Hida sambil memegang barang dagangannya saat ditanya mengenai latar belakang keluarganya.

Hida bukan berasal dari keluarga yang kesulitan secara finansial, tetapi dorongan untuk terus berkembang mendorongnya untuk melakukan lebih dari sekadar belajar di kelas. “Aku pengen punya pegangan untuk masa depanku, jadi aku merasa perlu melakukan sesuatu yang bisa jadi bekal buat kehidupan selanjutnya.”

Inspirasi Hida muncul dari kakaknya dan kakak iparnya yang selalu aktif dan berinisiatif. Mereka kerap memberikan dorongan positif pada Hida, mendorongnya untuk mencoba hal baru. 

“Kakak dan kakak iparku tuh serba bisa, dan mereka nanya, ‘mau jualan nggak?’ Awalnya aku ragu, tapi setelah liat ada beberapa anak di sekolah yang juga berjualan, aku pikir kenapa nggak dicoba?” katanya.

Keputusan Hida untuk berjualan di sekolah bukanlah hal yang diambil dengan mudah. Sebagai Ketua OSIS, Hida juga memiliki tanggung jawab yang besar dan kesibukan yang padat. Namun, Hida justru melihat peluang ini sebagai kesempatan untuk belajar mengatur waktu, mengelola keuangan, dan mengasah kemampuan interpersonalnya. Baginya, berjualan adalah sarana belajar yang tak didapatkan di bangku sekolah.

“Orang mungkin berpikir jualan di sekolah itu memalukan, tapi buatku, justru itu tantangan. Nggak semua orang bisa melakukan ini, apalagi sambil tetap aktif di kegiatan lain,” katanya tegas. 

Hida mengaku harus bangun lebih awal karena harus menyiapkan barang-barang yang akan dijualnya hari itu. Hal ini secara tidak langsung membuat pola kebiasan disiplin bagi Hida. Karena Hida sendiri harus bangun lebih awal dikala siswa-siswi lain mungkin masih tertidur nyenyak. 

Hida mengakui dengan nada bercanda bahwa kadang merasa kewalahan, terutama ketika ada kegiatan mendesak yang bertabrakan dengan waktu jualannya. Namun, sejauh ini, ia selalu berhasil menyeimbangkan keduanya. 

“Kadang keteteran banget, tapi Alhamdulillah masih bisa dijalanin. Ini justru jadi latihan manajemen waktu buatku.” kata Hida sambil tersenyum lebar.

Bagi Hida, berjualan bukan hanya tentang mencari keuntungan. Ia menyadari bahwa dengan berjualan, ia bisa belajar tentang arti kemandirian yang sebenarnya. Sejak mulai berjualan Hida tidak perlu lagi meminta uang ke orang tuanya untu jajan. Uang hasil berjualannya bisa digunakan Hida untuk membeli kebutuhan pribadi. Dan yang terpenting Hida belajar mengatur keungan.

Lebih dari itu, Hida juga ingin memberikan contoh bagi teman-temannya. Bahwa melakukan hal kecil seperti berjualan bisa menjadi jalan untuk mengenali potensi diri dan membangun kepercayaan diri. “Kadang kita berpikir harus nunggu jadi dewasa dulu baru bisa mandiri, padahal kalau mau, sejak sekarang kita bisa mulai,” ujarnya dengan semangat.

Melalui pengalamannya ini, Hida membuktikan bahwa setiap orang bisa menggali potensi diri dari mana saja. Ia menunjukkan bahwa dengan ketekunan, sikap pantang menyerah, dan kemauan untuk belajar, kesibukan seperti menjadi Ketua OSIS dan berjualan bisa dijalani dengan baik. 

Baginya, tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil atau terlalu sepele. Setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh adalah langkah kecil menuju kesuksesan yang lebih besar di masa depan. (Fatma dan Hanifah).


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil