Pringsewu, Perwakilan Densus 88 Anti Teror Mabes Polri, Elang Aryo, menekankan pentingnya pemahaman yang benar terkait radikalisme. Elang Aryo menegaskan bahwa radikalisme tidak merujuk pada satu agama, tetapi merupakan sikap intoleran yang dapat memicu tindakan terorisme.
"Radikalisme adalah sikap yang bisa muncul dari berbagai narasi, baik narasi keagamaan, sosial kemasyarakatan, maupun politik. Semua itu dapat mendorong seseorang menuju tindakan intoleransi, radikalisme, hingga terorisme," ujar Elang Aryo saat hadir di MAN 1 Pringsewu, Rabu (9/10/2024).
Ia menjelaskan bahwa proses terpaparnya seseorang pada radikalisme berawal dari pemikiran intoleran, yang kemudian berkembang menjadi sikap radikal, dan akhirnya tindakan terorisme. Oleh karena itu, pemahaman dan kewaspadaan terhadap paham ini sangat penting, terutama bagi generasi muda.
Acara yang bertajuk Wawasan Kebangsaan untuk Pencegahan Paham Intoleran, Radikalisme, dan Terorisme ini dihadiri oleh seluruh siswa MAN 1 Pringsewu dan tenaga pendidik. Kepala MAN, Fathul Bari, membuka acara ini dan mendukung penuh upaya pencegahan paham radikal di lingkungan pendidikan.
Ia mengatakan bahwa radikalisme adalah ancaman serius bagi kesatuan bangsa dan generasi muda.
"Radikalisme bukan hanya ancaman bagi keamanan, tetapi juga bagi keberagaman dan harmoni yang telah lama kita jaga di Indonesia. Sebagai pendidik, kami memiliki tanggung jawab besar untuk memastikan siswa tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki pemahaman yang benar tentang toleransi, cinta tanah air, dan perdamaian," katanya.
"Kita semua harus waspada dan bersatu dalam menolak setiap bentuk kekerasan dan ekstremisme yang merusak," imbuhnya.
Ia menilai peran pendidikan dalam menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan menyebarkan kasih sayang sebagai agen perubahan perdamaian sangat penting. (Elia)
Muhammad Faizin