Lampung Barat, Kemenag (Humas) -- Secara virtual Plt. Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Barat H. Miftahus Surur, S.Ag.,M.Si mengikuti Rapat Koordinasi tentang gerakan penanaman 1 juta pohon matoa dan peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Istiqlal Internasional Indonesia (PPIII) dalam rangka hari bumi ke 55 Tahun 2025. Tampak hadir Plt. Kepala Kanwil Kemenag Prov. Lampung H. Erwinto, S.Ag.,M.Kom.I, Kepala Kemenag Kab/Kota, dan Kepala Madrasah Negeri. Bertempat di Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Barat. Kamis, 17 April 2025.
Dalam upaya mengintegrasikan nilai agama dan kesadaran ekologis, Menag RI melakukan gerakan penanaman 1 juta pohon yang bertujuan membangun harmoni Tuhan, manusia dan alam. Hal ini dilaksanakan dalam rangka peringatan hari bumi yang menjadi momentum menjaga bumi.
Kementerian Agama mengembangkan program ekoteologi dengan tujuan mendorong kesadaran umat beragama dan merawat lingkungan. Adapun pohon yang akan ditanam ialah pohon matoa. Usai rapat zoom, Plt. Kepala Kankemenag Lambar Miftahus surur menjelaskan bahwa matoa dipilih karena merupakan pohon endemik asal Papua.
"Matoa sendiri memiliku nilai ekologis dan sosial yang tinggi. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan mempromosikan keberlanjutan bumi kita. Penanaman pohon matoa itu sendiri akan dilaksanakan di lokasi-lokasi strategis seperti masjid, KUA, dan madrasah sehingga diharapkan dapat menjadi contoh nyata bagi komunitas sekitar dalam upaya pelestarian lingkungan," jelasnya.
M. Surur menambahkan bahwa kegiatan ini juga merupakan bagian dari upaya untuk mengedukasi generasi muda tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem. Dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat, diharapkan gerakan ini dapat menjadi langkah awal menuju perubahan yang lebih besar dalam pengelolaan lingkungan hidup.
"Adapun tujuan kegiatan ini sangat jelas, pertama untuk meningkatkan kesadaran umat beragama tentang pelestarian lingkungan. Kedua, mendukung target reforestasi nasional untuk mengurangi dampak perubahan iklim. Ketiga, tidak kalah penting yakni dalam upaya mendorong lembaga keagamaan aktif dalam kampanye penghijauan," paparnya.
Pada tanggal 22 April, yang juga bertepatan dengan Hari Bumi, akan dilakukan peluncuran resmi kegiatan ini. Diharapkan, dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, program ini dapat berjalan dengan lancar dan memberikan dampak positif bagi lingkungan dan masyarakat sekitar. (Boy/K.TU/Mela Basyar)
