Pringsewu, Kebanyakan bermain game dapat memicu pelepasan enzim berlebihan di otak yang disebut dopamin. Hormon ini memberikan rasa senang dan kepuasan namun dampak lmenyebabkan beberapa dampak negatif. Di antaranya adalah membuat kecanduan untuk melakukan aktivitas tertentu.
"Terlalu sering bermain game dapat membuat seseorang ketagihan sehingga sulit untuk berhenti dan cenderung mengabaikan dan tak peka terhadap lingkungan" kata Yayuk Novita Ningrum, Guru Kimia MAN 1 Pringsewu saat memberi pengarahan kepada siswa dan siswi madrasah tersebut, Senin (23/9/2024).
"Maka tak heran tidak sadar gurunya sudah masuk kelas karena asik bermain game," imbuhnya pada upacara pengibaran bendera MAN 1 Pringsewu di lapangan madrasah setempat.
Yayuk menambahkan orang yang kecanduan game juga akan mengalami kondisi kurangnya empati dan kepekaan sosial. Bermain game berlebihan, terutama game online, bisa membuat seseorang terisolasi dari lingkungan sosial nyata. Ini dapat mengurangi interaksi langsung dengan orang lain, yang pada akhirnya memengaruhi kemampuan untuk berempati atau merespons kondisi sosial di sekitarnya.
Penurunan fokus dan produktivitas juga bisa dialami orang yang kecanduan game. Fokus berlebihan pada game mengalihkan perhatian dari tanggung jawab sehari-hari seperti belajar, bekerja, atau berinteraksi dengan keluarga dan teman, yang dapat menurunkan produktivitas.
Olrh karena itu ia meminta pelajar MAN 1 Pringsewu untuk dapat mengelola waktu secara bijak serta menjaga keseimbangan dengan aktivitas lain bisa membantu menghindari dampak negatif ini.
"Tidak selamanya smartphone berdampak negatif. Namun harus diatur waktu atau durasinya serta pemanfaatannya. Gunakan untuk hal-hal positif seperti mencari sumber ilmu dan informasi," imbaunya.
Di era saat ini lanjut Yayuk, kemajuan teknologi harus dimanfaatkan dengan baik. Jangan sampai generasi muda di "ninabobokkan" dengan berbagai kemudahan. Semangat belajar harus terus ditingkatkan disertai dengan pengiatan akhlak dan sopan santun.
Terkait hal ini, Kepala MAN 1 Pringsewu, Fathul Bari menilai bahwa kecanduan bermain game di kalangan generasi muda memang menjadi tantangan tersendiri dalam dunia pendidikan saat ini.
"Kita tidak bisa menolak kemajuan teknologi, namun bagaimana generasi muda bisa memanfaatkannya dengan bijak adalah kunci utama," ujar Fathul Bari.
Ia menambahkan bahwa madrasah memiliki tanggung jawab untuk terus memberikan arahan yang tepat, tidak hanya dalam hal akademik, tapi juga dalam pembentukan karakter.
Fathul Bari mengingatkan pelajar akan pentingnya keseimbangan antara hiburan, belajar, dan interaksi sosial yang sehat. "Madrasah harus menjadi tempat di mana siswa tidak hanya belajar tentang ilmu pengetahuan, tetapi juga dibimbing untuk memiliki akhlak yang baik dan bisa mengendalikan diri," katanya.
"Oleh karena itu, kami akan terus berkolaborasi dengan para guru dan orang tua untuk membentuk generasi yang beretika, berprestasi, dan memiliki kemampuan teknologi yang memadai," imbuhnya.
Ia juga berharap agar para siswa dapat menjadi contoh bagi generasi muda lainnya dalam hal pemanfaatan teknologi secara produktif. "Jangan sampai teknologi yang ada membuat kita malas dan terlena, sebaliknya, manfaatkan untuk belajar dan berkembang," pungkasnya.
Muhammad Faizin