Tanggamus Kemenag (Humas) -- Kepala
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tanggamus, Dr. H. Mahmuddin Aris Rayusman,
M.Pd.I., mengikuti kegiatan Breakfast Meeting PPG secara daring melalui
platform Zoom Meeting pada Selasa pagi. Acara ini membahas sejumlah isu
strategis terkait pendidikan di madrasah, seperti kurikulum toleransi dan
kebijakan libur kegiatan belajar mengajar (KBM) selama bulan Ramadhan.
Kehadiran Dr. Mahmuddin menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat nilai-nilai
kebangsaan melalui pendidikan agama.
Dalam diskusi tersebut, salah
satu tema utama adalah strategi implementasi toleransi beragama di lingkungan
madrasah. Nilai-nilai ini dianggap penting untuk menjaga kerukunan umat
beragama serta menciptakan generasi yang inklusif dan berwawasan luas.
“Madrasah tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga tempat pembentukan
karakter toleran bagi siswa,” ujar Dr. Mahmuddin.
Lebih lanjut, dibahas tentang integrasi
nilai toleransi dalam kurikulum madrasah, termasuk bagaimana menghubungkan
ajaran agama dengan nilai-nilai kebhinekaan. Para peserta sepakat bahwa
pendekatan kurikulum yang relevan perlu dirancang dengan mempertimbangkan
konteks keberagaman masyarakat Indonesia. Hal ini dapat dimulai dari pembelajaran
yang menyentuh aspek empati dan penghormatan terhadap perbedaan.
Selain kurikulum, perhatian juga
diberikan pada pentingnya pemberdayaan guru sebagai aktor utama pembelajaran
toleransi. Guru madrasah didorong untuk terus meningkatkan kompetensi, baik
dalam pengetahuan maupun metode pengajaran yang mendorong rasa hormat terhadap
keragaman. Dalam sesi ini, Dr. Mahmuddin menyampaikan pentingnya pelatihan
rutin bagi para pendidik untuk mendukung pembelajaran yang ramah dan inklusif.
Kegiatan madrasah yang
mempromosikan empati dan keberagaman budaya juga menjadi fokus dalam pertemuan
ini. Pihak Kemenag berkomitmen mendorong lebih banyak aktivitas yang melibatkan
siswa dari berbagai latar belakang untuk berkolaborasi, baik dalam seni budaya,
olahraga, maupun kegiatan keagamaan lintas keyakinan. Strategi ini diyakini
mampu menumbuhkan rasa saling menghormati sejak dini.
Sebagai penutup, Dr. Mahmuddin
menegaskan pentingnya menciptakan lingkungan madrasah yang inklusif dan ramah
bagi semua pihak. Ia berharap madrasah dapat menjadi contoh konkret bagi
masyarakat dalam mewujudkan kehidupan yang harmonis di tengah keberagaman.
“Toleransi bukan hanya konsep, tetapi harus menjadi nilai hidup yang kita
amalkan setiap hari,” ujarnya mengakhiri pertemuan. (Frans/Mela Basyar)
