Lampung (Humas) --- Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Jumadi, mengajak umat Hindu untuk terus menjaga dan merawat identitas kehinduan secara menyeluruh. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri Upacara Ngenteg Linggih di Pura Kahyangan Griya Sakti Manuaba, Desa Sidoharjo, Kecamatan Way Panji, Kabupaten Lampung Selatan, Selasa (6/5/2025).
Menurut Jumadi, menjaga identitas kehinduan tidak hanya sebatas pembangunan fisik seperti pura, tetapi juga mencakup penguatan nilai-nilai spiritual dan pemahaman ajaran Hindu yang mendalam. “Identitas kita sebagai umat Hindu tercermin dari tempat ibadah yang sakral, busana yang dikenakan, bahasa yang dipakai, hingga sikap dan perilaku dalam kehidupan. Semua itu harus dibarengi dengan penguatan pemahaman terhadap ajaran dharma,” ujarnya.
Upacara Ngenteg Linggih, lanjut Jumadi, merupakan bagian penting dalam siklus upacara Hindu yang bermakna penyucian dan pengukuhan tempat suci. Dalam tradisi Bali, istilah ngenteg berarti memperkuat atau meneguhkan, sementara linggih berarti tempat duduk atau tempat bersemayamnya energi suci.
“Dalam prosesi ini, kita menghadirkan saksi-saksi spiritual: dewa saksi, pitra saksi (roh leluhur), manusia saksi, dan bhuta saksi (alam semesta). Ini menunjukkan bahwa pembangunan pura bukan hanya aktivitas fisik, tetapi juga spiritual,” jelasnya.
Jumadi berharap, keberadaan Pura Kahyangan Griya Sakti Manuaba dapat menjadi pusat spiritual yang menguatkan semangat keberagamaan dan kebersamaan umat Hindu di wilayah tersebut. “Pura adalah pusat vibrasi dharma. Mari kita jaga, rawat, dan hidupkan dengan penuh kesadaran dan cinta,” pungkasnya.
Turut hadir dalam acara tersebut Penyelenggara Hindu Lampung Selatan, Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Lampung Selatan, Camat Way Panji, Kepala Desa Sidoharjo, dan sejumlah tokoh lembaga keagamaan Hindu setempat.
Acara ditutup dengan penandatanganan prasasti oleh Kabid Bimas Hindu dan pemuput karya sebagai simbolisasi resmi penyucian pura.(Anggithya/Abdul Aziz)
