Lampung (Humas) --- Matematika kerap dianggap sebagai mata pelajaran yang sulit dan kurang diminati. Namun, dalam perspektif ajaran Hindu, ilmu ini justru memiliki makna filosofis yang mendalam. Segitiga sama sisi, misalnya, menjadi simbol keseimbangan dalam mewujudkan Tri Kerangka Dasar ajaran Hindu, yang terdiri dari Tatwa, Etika, dan Upacara.
Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Bimbingan Masyarakat Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Jumadi, dalam dharma wacana pada piodalan di Pura Satria Mandala, Kota Bandar Lampung, Sabtu (22/2/2025).
“Segitiga sama sisi menggambarkan keseimbangan antara Tatwa, Etika, dan Upacara dalam ajaran Hindu. Ketiga unsur ini merupakan kunci harmoni dalam kehidupan beragama yang harus dijaga agar kebahagiaan dapat tercapai,” ujar Jumadi.
Ia menjelaskan bahwa dalam ajaran Hindu, Tatwa merupakan filsafat atau kebenaran tentang Tuhan dan alam semesta. Etika berhubungan dengan moral dan budi pekerti, sedangkan Upacara mencakup ritual keagamaan. Keseimbangan antara ketiga unsur ini menjadi fondasi dalam praktik keagamaan yang harmonis.
“Jika salah satu unsur ini diabaikan, maka keseimbangan akan terganggu, sebagaimana segitiga yang tidak sempurna jika salah satu sisinya lebih pendek atau lebih panjang dari yang lain,” jelasnya.
Dalam dharma wacana tersebut, Jumadi mengutip Bhagavad Gita Adyaya 4 Sloka 33, yang berbunyi: śreyān dravya-mayād yajñāj jñāna-yajñaḥ parantapa, sarvaḿ karmakhilaḿ pārtha jñāne parisamāpyate. Ayat ini menegaskan bahwa pengorbanan yang dilakukan dengan pengetahuan lebih utama daripada pengorbanan material.
“Dengan pemahaman yang baik, setiap praktik keagamaan memiliki makna lebih mendalam dan memberi manfaat lebih besar bagi umat Hindu,” katanya.
Jumadi juga mengajak generasi muda Hindu untuk tidak hanya memahami ajaran agama secara tekstual, tetapi juga kontekstual. Ia menekankan bahwa ilmu pengetahuan, termasuk matematika, dapat menjadi sarana refleksi dalam memperdalam spiritualitas.
“Piodalan bukan sekadar peringatan hari jadi pura, tetapi juga momentum untuk introspeksi diri dan memperkuat keyakinan dalam menjalankan ajaran Hindu dengan penuh keseimbangan. Sebagaimana dalam matematika, segala sesuatu memiliki keteraturan dan hukum-hukum tertentu yang dapat kita pelajari dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.(Anggithya/Abdul Aziz)
