Search

Kakanwil Kemenag Lampung: Idul Adha Ajarkan Ketakwaan, Pengorbanan, Dan Kepedulian Sosial

kakanwil-kemenag-lampung-idul-adha-ajarkan-ketakwaan-pengorbanan-dan-kepedulian-sosial
Fotografer: Aziz

Lampung (Humas) --- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Lampung, Zulkarnain, mengajak umat Islam menjadikan momentum Idul Adha sebagai sarana memperkuat ketakwaan, semangat pengorbanan, dan kepedulian sosial melalui ibadah kurban. Pesan itu disampaikan  saat menjadi khatib pelaksanaan Shalat Idul Adha di Masjid Ulul Albab Bataranila, Rabu (27/5/2026).

Pelaksanaan Shalat Idul Adha tersebut turut dihadiri Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Lampung, Yan Maradonna, beserta jajaran pegawai di lingkungan Kanwil Kemenag Lampung dan masyarakat sekitar.

Dalam khutbahnya, Zulkarnain menyampaikan sedikitnya tiga pelajaran penting yang dapat dipetik dari Hari Raya Idul Adha. Pertama, momentum Idul Adha berkaitan erat dengan pelaksanaan ibadah haji di Arafah yang menjadi simbol persamaan derajat manusia di hadapan Allah.

“Minimal ada tiga pelajaran yang kita bisa petik dari Hari Raya Idul Adha ini. Yang pertama adalah al-hajju Arafah, haji adalah wukuf di Arafah. Di sana mereka memakai pakaian yang sama. Tidak ada perbedaan antara presiden, raja dengan rakyatnya, orang kaya dan orang miskin, tidak ada perbedaan suku dan bangsa. Semuanya sama di hadapan Allah. Yang membedakan mereka adalah yang paling bertakwa kepada Allah,” ujar Zulkarnain dalam khutbahnya.

Ia menjelaskan, jutaan umat Islam dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Padang Arafah dalam satu tempat dan waktu yang sama. Menurut dia, kondisi tersebut menjadi gambaran bahwa manusia memiliki kedudukan setara di hadapan Tuhan tanpa memandang jabatan maupun status sosial.

Zulkarnain juga mengajak jamaah mendoakan seluruh jamaah haji Indonesia agar memperoleh predikat haji mabrur. Ia berharap umat Islam yang telah memiliki kemampuan, baik secara fisik, keamanan, maupun finansial, diberikan kesempatan untuk dapat menunaikan ibadah haji sebagai rukun Islam kelima.


Pelajaran kedua, kata dia, Idul Adha mengajarkan makna pengorbanan melalui keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Menurutnya, kisah tersebut menunjukkan bahwa keimanan seseorang akan selalu diuji, termasuk melalui pengorbanan terhadap sesuatu yang paling dicintai.

“Kita meneladani pengorbanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS. Semua kita pasti diuji dalam kehidupan ini. Mereka yang mengaku beriman kepada Allah pasti diuji oleh Allah,” katanya.

Ia menuturkan, ujian berat yang dialami Nabi Ibrahim saat diperintahkan menyembelih putranya menjadi simbol ketaatan total kepada perintah Tuhan. Namun, Allah kemudian menggantinya dengan seekor kibas sebagai bentuk kasih sayang sekaligus menjadi dasar disyariatkannya ibadah kurban.

“Sejak itulah tidak diperkenankan bentuk pengorbanan apa pun kepada Allah kecuali dengan menyembelih hewan kurban sebagai bentuk mendekatkan diri kepada Allah,” ujar dia.

Pelajaran ketiga, lanjut Zulkarnain, ialah pentingnya berbagi dan meningkatkan kepedulian sosial melalui ibadah kurban. Menurut dia, kurban bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan manifestasi ketakwaan dan kecintaan seorang hamba kepada Allah.

“Allah tidak membutuhkan darah dan daging hewan kurban. Tapi yang sampai kepada Allah adalah bentuk ketakwaan kita kepada Allah, rasa cinta kita kepada Allah,” katanya mengutip makna Surah Al-Hajj ayat 37.

Dalam ceramah dan doa penutup, Zulkarnain juga mengingatkan pentingnya memperbanyak amal kebajikan, membantu sesama, menjaga keharmonisan keluarga, serta terus berbakti kepada orang tua, baik yang masih hidup maupun telah meninggal dunia. Ia mengajak umat Islam memanfaatkan momentum Idul Adha untuk memperkuat kepedulian sosial melalui infak, sedekah, dan kurban.

“Semoga Allah memberikan kemampuan kepada kita untuk mau dan mampu menyembelih hewan kurban pada hari nahar sampai hari tasyrik nanti,” kata Zulkarnain. (Humas)


Editor: Anggithya
Copyright : Datin Kanwil