Lampung (Humas) --- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain, menegaskan bahwa kurikulum berbasis cinta menjadi instrumen strategis dalam mencegah kekerasan di lingkungan pendidikan serta memperkuat relasi sosial yang harmonis. Pendidikan, menurutnya, tidak cukup hanya mentransfer pengetahuan, tetapi harus mampu menyentuh hati dan membentuk karakter peserta didik secara utuh.
Hal tersebut
disampaikan Zulkarnain saat membuka Workshop
Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Ekoteologi bagi Guru se-KKM MTs Kota
Bandar Lampung, Senin (26/1), di Hotel Nusantara Bandar Lampung.
Zulkarnain
menjelaskan, penguatan nilai kasih sayang dalam pendidikan memiliki landasan
regulasi yang kuat. Di antaranya Keputusan
Menteri Agama Nomor 1503 Tahun 2025 tentang perubahan atas KMA Nomor 450
Tahun 2024 mengenai pedoman implementasi kurikulum pada madrasah, yang secara
eksplisit mengamanatkan penguatan karakter melalui pendekatan kasih sayang.
Selain itu,
terdapat Keputusan Direktur Jenderal
Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum
Berbasis Cinta yang menjadi kompas operasional bagi madrasah, serta Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan
Menengah Nomor 513 Tahun 2025 tentang arah kebijakan pembelajaran
mendalam (deep learning). Kebijakan tersebut diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional.
“Kementerian Agama
menginginkan pendidikan tidak hanya berorientasi pada aspek akademik, tetapi
juga membentuk karakter, integritas, dan nilai moral peserta didik. Kurikulum
berbasis cinta hadir untuk memastikan madrasah menjadi tempat yang aman,
nyaman, dan menyenangkan bagi anak-anak,” ujar Zulkarnain.
Ia menegaskan bahwa
implementasi kurikulum berbasis cinta harus dimulai dari pendidik dan tenaga
kependidikan dengan perubahan pola pikir untuk mendidik dengan hati. Guru diharapkan menjadi teladan dalam
menciptakan madrasah yang ramah anak, bebas dari kekerasan fisik, psikis,
maupun seksual, serta meniadakan diskriminasi dan perundungan.
“Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang mengasah nalar sekaligus menghidupkan nurani. Kita tidak bisa mengajarkan cinta jika masih ada kekerasan atau perlakuan tidak adil di lingkungan belajar,” katanya.
Dalam implementasinya, kurikulum berbasis cinta menekankan pendekatan social emotional learning, pembelajaran bermakna (meaningful learning), pembelajaran berkesadaran (mindful learning), dan pembelajaran menyenangkan (joyful learning). Pendekatan ini diharapkan mampu menumbuhkan kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual peserta didik secara seimbang.
Zulkarnain juga menekankan pentingnya integrasi ekoteologi dalam pembelajaran, yakni menanamkan kecintaan dan kepedulian terhadap lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab manusia sebagai khalifah di bumi.
“Madrasah harus menjadi pelopor kepedulian lingkungan, mulai dari membiasakan perilaku ramah lingkungan, mengurangi penggunaan plastik, hingga menanamkan kesadaran ekologis melalui pembelajaran kontekstual dan menyenangkan,” ujarnya.
Di akhir sambutannya, Zulkarnain mengajak seluruh guru untuk menanamkan panca cinta, yakni cinta kepada Allah dan Rasul-Nya, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan negara.
“Dengan menebarkan cinta melalui pendidikan, kita berharap melahirkan generasi madrasah yang berakhlakul karimah, berintegritas, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Pendidikan yang dilandasi cinta akan melahirkan peradaban yang lebih manusiawi dan berkeadilan,” pungkasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini dilaksanakan bukan sekadar sebagai pemenuhan administrasi kurikulum, melainkan sebagai respons atas tantangan dunia pendidikan di tahun 2026 yang semakin kompleks. Menurutnya, tantangan pendidikan saat ini tidak lagi berhenti pada proses administratif atau transfer pengetahuan semata, tetapi bagaimana pendidikan mampu menyentuh hati dan jiwa peserta didik (touching heart, touching soul).
Ia menegaskan bahwa kurikulum berbasis cinta dihadirkan untuk memastikan madrasah menjadi ruang belajar yang aman, nyaman, dan penuh kegembiraan, sehingga peserta didik dapat tumbuh dan berkembang secara optimal. Workshop ini bertujuan membekali guru dengan kompetensi dalam menerapkan panca cinta, yaitu cinta kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan tanah air.
Lebih lanjut disampaikan bahwa implementasi kurikulum berbasis cinta menuntut perubahan pola pikir guru untuk mendidik dengan hati, guna menciptakan pengalaman belajar yang humanis dan menyenangkan. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh guru MTs Negeri 1 dan MTs Negeri 2 Kota Bandar Lampung serta perwakilan dari 24 madrasah anggota KKM MTs Kota Bandar Lampung, dengan jumlah peserta sebanyak 250 orang.
Workshop dilaksanakan selama dua hari, yakni Senin dan Sabtu, 31 Januari 2026, dengan menghadirkan narasumber dari Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung serta lembaga pendidikan dan diklat keagamaan di Kota Bandar Lampung. Ketua Panitia berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan penuh semangat dan antusiasme demi terwujudnya pendidikan madrasah yang lebih humanis dan berkeadaban. (Humas)
Penulis : Anggithya
Fotografer : Aziz/Baihaqi
