Bandar Lampung, MAN 2 (Humas) - Aula MAN 2 Bandar Lampung dipenuhi antusiasme ratusan siswi dalam acara keputrian dengan mengusung tema pentingnya moderasi beragama, kegiatan ini menghadirkan narasumber istimewa, Novita Anggraini, seorang tokoh yang dikenal atas kepeduliannya dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi dan kerukunan. Acara ini berlangsung pada Jumat (10/10/2025).
Novita Anggraini membuka pemaparannya dengan menyapa para siswi,
menciptakan suasana yang hangat dan interaktif. Ia menjelaskan bahwa moderasi
beragama bukanlah tentang menjadi "setengah-setengah" dalam beragama,
melainkan cara bersikap dalam mengamalkan ajaran agama secara seimbang.
"Moderasi beragama adalah cara kita menjaga diri dari ekstremisme, baik
berlebihan dalam fanatisme maupun sikap abai terhadap ajaran agama itu
sendiri," jelasnya.
Lebih lanjut, Novita menekankan bahwa generasi muda, khususnya para siswi
madrasah, memiliki peran vital dalam merawat keberagaman di Indonesia.
"Kalian adalah agen perubahan. Dengan memahami dan mengamalkan moderasi
beragama, kalian bisa menjadi teladan bagi lingkungan sekitar, mulai dari
keluarga, teman, hingga masyarakat luas," tambahnya.
Acara yang berlangsung selama satu jam ini diisi dengan sesi tanya jawab
yang menarik. Para siswi tampak proaktif mengajukan pertanyaan, mulai dari cara
menyikapi perbedaan pendapat antar-sesama teman hingga peran media sosial dalam
menyebarkan isu keagamaan yang sensitif. Novita dengan sabar dan lugas menjawab
semua pertanyaan, memberikan pencerahan yang mudah dipahami oleh audiens
remaja.
Kepala MAN 2 Bandar Lampung, Nauval dalam sambutannya, mengungkapkan rasa
terima kasih atas kehadiran Novita Anggraini. "Sosialisasi ini sangat
relevan dan penting untuk membekali siswi kami agar memiliki pemahaman
keagamaan yang kokoh, namun tetap terbuka dan menghargai perbedaan. Kami
berharap, ilmu yang didapat hari ini bisa menjadi bekal mereka di masa
depan," ujarnya.
Acara keputrian yang inspiratif ini ditutup dengan sesi foto bersama dan sholat zuhur berjamaah di aula. Para siswi pulang dengan wawasan baru dan semangat untuk menjadi pribadi yang lebih moderat, toleran, dan menjadi bagian dari solusi dalam merawat kerukunan di tengah masyarakat majemuk. (Humas)