Bandar Lampung, Kemenag (Humas) —
Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Bandar Lampung, Makmur, menghadiri
kegiatan Workshop Keputusan Menteri Agama (KMA) Nomor 1503 Tahun 2025 tentang
Implementasi Penguatan Kurikulum Berbasis Cinta dan Kurikulum Tahun 2026.
Kegiatan ini diselenggarakan di Aula MAN 2 Bandar Lampung dan berlangsung
selama dua hari, Kamis–Jumat (8–9 Januari 2026).
Workshop tersebut bertujuan untuk memperkuat pemahaman serta kesiapan satuan pendidikan madrasah dalam mengimplementasikan kurikulum berbasis nilai cinta, moderasi beragama, dan penguatan karakter peserta didik sebagai bagian dari arah kebijakan pendidikan Kementerian Agama menuju Indonesia Emas 2045.
Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala
Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi Lampung Marwansyah, Kepala Bidang
Pendidikan Madrasah Ahmad Rifa’i, Kepala Kankemenag Kota Bandar Lampung Makmur,
Kepala Balai Pendidikan dan Pelatihan Keagamaan, KASI Penmad, Said
Karimin, Kepala MAN 2 Bandar Lampung
Nauval, serta para pemangku kepentingan pendidikan madrasah lainnya.
Sebanyak kurang lebih 90 peserta
mengikuti workshop ini, terdiri atas 82 orang dewan guru PNS dan non-PNS MAN 2
Bandar Lampung serta 6 orang Wakil Kepala Madrasah Aliyah Swasta se-Kota Bandar
Lampung. Para peserta dibekali pemahaman konseptual dan teknis terkait arah
kebijakan kurikulum tahun 2026.
Dalam sambutannya, Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Provinsi Lampung Marwansyah, mewakili Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Lampung sekaligus membuka kegiatan secara resmi, menekankan pentingnya membangun kerukunan sebagai fondasi utama dalam rumah besar Kementerian Agama. Nilai kerukunan tersebut, lanjutnya, harus terinternalisasi secara berjenjang mulai dari tingkat pusat, kanwil, kabupaten/kota, Kantor Urusan Agama (KUA) hingga satuan pendidikan madrasah sebagai garda terdepan pembentukan karakter generasi bangsa. Hal ini sejalan dengan arah kebijakan strategis dan Asta Protas Kementerian Agama.
Pada kesempatan yang sama, Kepala
Kankemenag Kota Bandar Lampung, Makmur, menyampaikan pentingnya menempatkan
nilai cinta sebagai fondasi dalam proses pendidikan. Ia mengutip pandangan
inspiratif yang sering dikaitkan dengan Imam Al-Ghazali bahwa cinta kepada
Allah dan Rasul-Nya merupakan cahaya yang menuntun akal, membersihkan hati, dan
meluruskan amal perbuatan. Menurutnya, ilmu pengetahuan yang tidak disertai
cinta berpotensi kehilangan arah dan makna dalam praktik pendidikan.
Workshop berlangsung dengan pemaparan materi kebijakan, diskusi, serta penguatan strategi implementasi kurikulum di tingkat madrasah. Melalui kegiatan ini diharapkan para pendidik memiliki pemahaman yang komprehensif dan mampu mengimplementasikan Kurikulum Berbasis Cinta secara konsisten, sehingga madrasah dapat melahirkan generasi yang unggul secara intelektual, spiritual, dan sosial. (Humas)
Editor: Fadilah
