Search

Mengapa Pikiran, Ucapan, Dan Perbuatan Harus Selaras? Ini Pesan Dharma Di Seputih Raman

mengapa-pikiran-ucapan-dan-perbuatan-harus-selaras-ini-pesan-dharma-di-seputih-raman
Fotografer: Ria

Lampung Tengah, Kemenag (Humas)- Penguatan karakter dan pengendalian diri menjadi bagian penting dalam kehidupan beragama. Nilai tersebut disampaikan Penyuluh Agama Hindu Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah, Eka Wulandari, S.Pd., saat memandu pelaksanaan Doa Pitra Puja yang dirangkaikan dengan pembinaan keagamaan bagi umat Hindu di Kampung Rama Laksana, Kecamatan Seputih Raman, Sabtu (6/6/2026).

Kegiatan diawali dengan pelaksanaan Doa Pitra Puja sebagai wujud penghormatan dan bakti kepada leluhur. Dalam tradisi Hindu, penghormatan kepada leluhur tidak hanya dimaknai sebagai pelaksanaan ritual keagamaan, tetapi juga sebagai upaya menjaga kesinambungan nilai-nilai dharma yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Pada kesempatan tersebut, Eka Wulandari menyampaikan Dharma Wacana bertema Implementasi Tri Kaya Parisudha, sebuah ajaran fundamental dalam agama Hindu yang mengajarkan keselarasan antara pikiran, perkataan, dan perbuatan.

Ia menjelaskan bahwa Tri Kaya Parisudha terdiri atas Manacika (berpikir yang baik dan benar), Wacika (berkata yang baik dan benar), serta Kayika (berbuat yang baik dan benar). Ketiga unsur tersebut menjadi landasan moral yang membimbing umat dalam menjalani kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Menurutnya, berbagai tantangan kehidupan modern menuntut setiap individu memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri dan menjaga kualitas perilaku. Dalam konteks tersebut, Tri Kaya Parisudha menjadi pedoman yang relevan untuk membangun kehidupan yang harmonis dan penuh tanggung jawab.

"Perubahan yang baik selalu diawali dari pikiran yang baik. Ketika pikiran terjaga, maka ucapan akan terarah, dan tindakan yang dilakukan akan membawa manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar," ujarnya.

Lebih lanjut, ia mengajak umat Hindu untuk menjadikan Tri Kaya Parisudha sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun kehidupan sosial. Menurutnya, implementasi ajaran tersebut tidak hanya memperkuat kualitas spiritual seseorang, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan kerukunan dan keharmonisan di tengah masyarakat yang majemuk.

Dialog yang berlangsung setelah penyampaian materi menunjukkan tingginya perhatian umat terhadap pentingnya pengamalan nilai-nilai dharma dalam kehidupan nyata. Berbagai pandangan dan pengalaman yang disampaikan peserta memperkaya pemahaman bersama mengenai penerapan Tri Kaya Parisudha dalam menghadapi dinamika kehidupan saat ini.

Melalui pembinaan keagamaan yang berkelanjutan, Kementerian Agama Kabupaten Lampung Tengah terus mendorong penguatan pemahaman ajaran agama yang tidak berhenti pada aspek ritual, tetapi juga tercermin dalam sikap dan perilaku sehari-hari. Dengan demikian, nilai-nilai keagamaan dapat menjadi fondasi dalam membangun masyarakat yang berkarakter, rukun, dan berintegritas.


Editor: Aziz
Copyright : Datin Kanwil