Lampung (Humas) --- Tim Kerja Organisasi dan Tata Laksana Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung yang dipimpin Ketua Tim Ortala beserta rombongan menggelar kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) pengelolaan pengaduan masyarakat (dumas) serta tugas dan fungsi organisasi dan tata laksana (Ortala) di Aula Kemenag Kabupaten Way Kanan, Selasa (12/5/2026).
Kegiatan monitoring dan evaluasi itu dilakukan untuk memperkuat pemahaman jajaran Kementerian Agama terhadap pelaksanaan tugas organisasi sekaligus memastikan pengelolaan pengaduan masyarakat berjalan efektif, cepat, dan sesuai prosedur.
Dalam kesempatan ini, Syamsul menekankan bahwa pengaduan masyarakat tidak dapat dipandang semata sebagai bentuk kritik terhadap pelayanan, melainkan bagian penting dari evaluasi internal lembaga. Menurut dia, pengelolaan dumas yang baik justru menjadi instrumen untuk memperbaiki kualitas layanan publik.
"Pengaduan masyarakat jangan dianggap sebagai ancaman, tetapi sebagai masukan yang harus dikelola dengan baik. Dari sana kita bisa melihat titik-titik yang perlu diperbaiki agar pelayanan semakin maksimal," ujar Syamsul di hadapan peserta kegiatan.
Ia mengatakan, setiap satuan kerja perlu memahami alur penanganan pengaduan secara komprehensif, mulai dari penerimaan laporan, proses verifikasi, hingga tindak lanjut yang terukur. Respons terhadap aduan masyarakat, kata dia, harus dilakukan secara profesional dan tidak berlarut-larut.
"Jangan sampai ada pengaduan yang dibiarkan tanpa penyelesaian. Respons cepat dan tepat itu menjadi salah satu indikator kepercayaan publik terhadap institusi kita," katanya.
Selain membahas pengelolaan pengaduan masyarakat, Syamsul juga menyoroti pentingnya pemahaman terhadap tugas dan fungsi organisasi dan tata laksana (Ortala). Ia menilai, efektivitas organisasi sangat bergantung pada pemahaman aparatur terhadap peran dan kewenangannya masing-masing.
"Kalau tupoksi dipahami dengan baik, koordinasi menjadi lebih mudah dan pelayanan akan berjalan efektif. Sebaliknya, jika tidak dipahami, potensi tumpang tindih pekerjaan akan semakin besar," ujarnya.
Syamsul juga mengingatkan pentingnya penyesuaian pola kerja organisasi terhadap kebutuhan masyarakat yang terus berkembang. Menurut dia, tata kelola organisasi harus adaptif dan mampu menjawab tantangan pelayanan publik yang semakin dinamis.
"Kita harus terus melakukan evaluasi. Organisasi tidak boleh berjalan dengan pola lama jika kebutuhan masyarakat berubah. Karena itu, monitoring dan evaluasi menjadi instrumen penting untuk melihat apa yang sudah baik dan apa yang masih perlu dibenahi," kata Syamsul.
Ia berharap kegiatan monitoring dan evaluasi tersebut tidak berhenti pada tataran administratif, tetapi mampu diimplementasikan dalam pelaksanaan tugas sehari-hari di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan.
"Yang paling penting adalah tindak lanjutnya. Setelah kegiatan ini, harus ada penguatan komitmen bersama agar pelayanan publik semakin baik, pengaduan tertangani dengan benar, dan tata kelola organisasi semakin tertib," tuturnya.
Melalui kegiatan tersebut, Syamsul juga berharap Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan dapat meningkatkan efektivitas pengelolaan pengaduan masyarakat sekaligus memperkuat implementasi tugas dan fungsi organisasi guna mendukung pelayanan publik yang lebih akuntabel dan responsif. (Humas)

