Tulang Bawang,
Kemenag (Humas) – Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Tulang
Bawang, H. Ahmad Jalaluddin, hadir secara langsung dan bertindak sebagai narasumber
utama dalam kegiatan Dialog Isu Aktual Lintas Agama, yang dilaksanakan di Kampung
Tri Tunggal Jaya, Kecamatan Banjar Margo, Rabu (18/06/2025).
Dialog diikuti oleh 30 peserta, yang
terdiri dari unsur penting masyarakat lokal, yaitu Ketua dan anggota Badan
Permusyawaratan Kampung (BPK), para Kepala Dusun, tokoh lintas agama, tokoh pemuda, dan tokoh perempuan dari berbagai latar belakang kepercayaan.
Dalam sesi pemaparan materi, Kepala
Kantor Kemenag Tulang Bawang Jalaluddin membawakan judul materi “Moderasi Beragama". Ia menekankan
bahwa moderasi beragama bukanlah upaya memoderatkan agama, melainkan mengajak
pemeluk agama untuk menjalankan keyakinan secara adil, seimbang, dan menghargai
perbedaan.
“Moderasi beragama Cara pandang,
sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama – yang melindungi
martabat kemanusiaan dan membangun kemaslahatan
umum – berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa,” tegas Jalaluddin.
Dalam paparannya, beliau menguraikan empat
indikator utama moderasi beragama yaitu, komitmen kebangsaan, toleransi, anti kekerasan,
dan penerimaan
terhadap budaya lokal.
Beliau juga menjelaskan bahwa keempat indikator tersebut harus menjadi bagian dari pola pikir, sikap, dan perilaku sehari-hari, khususnya dalam lingkungan yang heterogen seperti di Kampung Tri Tunggal Jaya.
Lebih lanjut, Jalaluddin menjelaskan bahwa moderasi beragama merupakan perekat antara semangat beragama dan komitmen berbangsa. Di Indonesia, beragama pada hakikatnya adalah ber-Indonesia dan ber-Indonesia itu pada hakikatnya adalah beragama.
Menutup materinya
Kakankemenag mengingatkan kembali bahwa menjaga kerukunan bukan hanya tugas
pemerintah atau tokoh agama, tetapi merupakan tanggung jawab kolektif seluruh
warga bangsa.
“Toleransi bukan berarti menyamakan keyakinan, tapi kemampuan kita untuk tetap bersaudara dalam perbedaan. Mari kita rawat kebhinekaan ini dengan hati yang bersih dan pikiran terbuka,” pungkasnya.
Editor: Aditya Catur
