Search

PW IPARI Lampung Hadiri Rakernas II, Menag Dorong Reformasi Dakwah Era Digital

pw-ipari-lampung-hadiri-rakernas-ii-menag-dorong-reformasi-dakwah-era-digital
Fotografer: Humas Kanwil

Jakarta, Kanwil Kemenag Lampung (Humas) --- Pengurus Wilayah Ikatan Penyuluh Agama Republik Indonesia (IPARI) Provinsi Lampung turut ambil bagian dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II IPARI Tahun 2025 yang berlangsung pada 25–27 Mei di Hotel Aston Kartika Grogol, Jakarta Barat.

Hadir sebagai delegasi dari Lampung antara lain H.M. Ali, S.Ag., MM selaku Anggota Pengurus Pusat IPARI, Ismail Sholeh, S.Ag. sebagai Ketua PW IPARI Provinsi Lampung, Elsyana, S.Pd.I. sebagai Bendahara Umum, serta Tridayana, S.Ag. selaku Ketua Bidang. Keempatnya bergabung bersama peserta dari berbagai provinsi dalam forum nasional yang membahas arah baru peran penyuluh agama di tengah tantangan zaman.

Rakernas dibuka langsung oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar. Dalam sambutannya, Menag menekankan pentingnya reformulasi pendekatan dakwah yang relevan dengan perkembangan masyarakat modern. Ia menyampaikan lima strategi utama yang dinilai krusial untuk memperkuat peran penyuluh sebagai agen perubahan sosial dan penjaga harmoni umat.

“Kerja penyuluh agama itu bukan kecil. Ia menyentuh akar kehidupan masyarakat. Maka, tidak boleh gagap zaman,” ujar Nasaruddin di hadapan ratusan peserta Rakernas.

Strategi pertama, menurut Menag, adalah penguasaan teknologi dan media komunikasi modern. Penyuluh di era digital harus mampu menyampaikan pesan-pesan keagamaan secara visual, ringkas, dan menarik. Media sosial, presentasi interaktif, serta kemampuan membaca tren komunikasi menjadi alat utama dakwah masa kini.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu juga menyoroti pentingnya membawakan pesan agama dengan narasi cinta, bukan kebencian. “Kalau ada orang mengajarkan agama tapi isinya kebencian, itu bukan dakwah. Itu provokasi,” tegasnya.

Ia mencontohkan, inti ajaran Al-Qur’an yang terkandung dalam surah Al-Fatihah dan lafaz Bismillahirrahmanirrahim memperlihatkan bahwa kasih sayang adalah fondasi ajaran agama.

Strategi ketiga menyoroti pentingnya dakwah yang memperhatikan konteks budaya lokal dan lintas budaya. Menag menekankan bahwa penyuluh harus mampu membedakan antara nilai ajaran agama dan tradisi budaya yang melingkupinya agar tidak kehilangan substansi pesan.

Selain itu, pendekatan spiritual yang berwawasan lingkungan atau ekoteologi juga menjadi sorotan. Menag menyebut penyuluh harus menjadi pelopor kesadaran lingkungan dengan mengaitkannya pada nilai-nilai keagamaan. “Cinta pada alam adalah bagian dari cinta pada ciptaan-Nya,” ujarnya.

Strategi terakhir yang ditekankan adalah pentingnya menjunjung keadilan, kesetaraan, dan toleransi dalam setiap kegiatan penyuluhan. Moderasi beragama, kata Menag, adalah menerima keberagaman sebagai anugerah dan menjadikannya jembatan, bukan sekat.

“Penyuluh agama bukan sekadar pemberi ceramah, tapi perawat kemanusiaan. Kita harus kembali kepada esensi agama: cinta, kasih, dan kebaikan,” pungkas Nasaruddin.

Ketua PW IPARI Lampung, Ismail Sholeh, menyatakan keikutsertaan Lampung dalam Rakernas merupakan bentuk komitmen daerah dalam mendukung program nasional IPARI. “Kami siap mengimplementasikan hasil Rakernas untuk memperkuat peran penyuluh sebagai garda terdepan dalam membina kehidupan beragama yang rukun dan toleran di tengah masyarakat,” ujarnya.

Rakernas II IPARI 2025 juga dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional, pejabat Kementerian Agama, serta pengurus IPARI dari seluruh provinsi di Indonesia.(Anggithya/Abdul Aziz)


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil