Lampung Tengah, Kemenag (Humas) — Upaya membangun masyarakat yang peduli terhadap lingkungan dapat berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai keagamaan. Semangat inilah yang terus didorong Kementerian Agama melalui pembinaan kepada berbagai kelompok masyarakat, termasuk komunitas pengelola Bank Sampah sebagai ruang edukasi yang mengintegrasikan kepedulian sosial, pelestarian lingkungan, dan pengamalan ajaran agama dalam kehidupan sehari-hari.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui kegiatan pembinaan yang diberikan Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Lampung Tengah, Darwiyati, S.Pd.H., kepada anggota Bank Sampah Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Desa Watu Agung, Kecamatan Kalirejo, Minggu (5/7/2026).
Bank Sampah yang dikelola oleh ibu-ibu WHDI tidak hanya menjadi sarana mengelola sampah rumah tangga agar memiliki nilai ekonomis, tetapi juga berkembang sebagai wadah pemberdayaan masyarakat yang menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sekaligus memperkuat semangat kebersamaan dan kepedulian sosial.
Dalam pembinaannya, Darwiyati menyampaikan materi mengenai makna dana punia dalam ajaran Hindu. Ia menjelaskan bahwa nilai berbagi tidak diukur dari besar kecilnya harta yang dimiliki, melainkan dari ketulusan hati dan keikhlasan dalam memberikan manfaat bagi sesama.
Menurutnya, hasil pengelolaan Bank Sampah dapat menjadi salah satu bentuk nyata implementasi dana punia. Sampah yang sebelumnya tidak bernilai dapat diolah menjadi sumber manfaat ekonomi, kemudian sebagian hasilnya dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan sosial, keagamaan, maupun membantu masyarakat yang membutuhkan.
"Dana punia bukan hanya tentang memberi dalam jumlah besar, tetapi bagaimana setiap orang memiliki kepedulian untuk berbagi sesuai kemampuan. Melalui Bank Sampah, kita belajar bahwa menjaga lingkungan juga dapat menjadi bagian dari ibadah dan membawa manfaat bagi banyak orang," ujar Darwiyati.
Ia menambahkan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan tanggung jawab bersama. Ketika masyarakat mampu mengelola sampah dengan baik, manfaat yang dirasakan tidak hanya berupa lingkungan yang lebih bersih, tetapi juga tumbuhnya budaya gotong royong, kepedulian sosial, dan rasa syukur atas setiap anugerah yang diberikan Tuhan.
Para peserta mengikuti pembinaan dengan antusias serta aktif berdiskusi mengenai pengembangan kegiatan Bank Sampah agar manfaatnya semakin luas bagi masyarakat.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama berharap Bank Sampah WHDI Desa Watu Agung terus berkembang sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang menginspirasi lahirnya kebiasaan hidup bersih, peduli lingkungan, dan gemar berbagi. Sinergi antara nilai keagamaan dan kepedulian terhadap alam diharapkan mampu melahirkan masyarakat yang tidak hanya bertanggung jawab menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga menjadikan setiap tindakan sederhana sebagai wujud pengabdian dan kemanfaatan bagi sesama.
Humas Lampung Tengah