Lampung Barat, Kemenag (Humas) -- Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Barat diwakili Plt. Penyelenggara Haji dan Umroh Wayan Hadi Wiryana, S.Ag mejadi narasumber pada Sosialisasi Intelijen Mengantisipasi Paham Radikalisme, Intoleran, dan Anti Pancasila Tahun 2025. Tampak hadir Asisten Pemerintahan dan Kesra Drs. Ahmad hikami, Kepala badan kesatuan Bangsa dan politik Burlianto Eka Putra, S.H, Kasat Intel Polres, Kodim 0422, Kepala Kejaksaan Negeri, Ketua Pengadilan Negeri Liwa, Kepala Satuan Polisi Pamong Praja, Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Ketua Gabungan Organisasi Wanita, Ketua Pemuda Pancasila, Ketua PSHT, Kepala SMA Negeri 1, Kepala SMK Negeri 1, dan Seluruh Camat di Kabupaten Lampung Barat. Bertempat di Aula Kagungan Kompleks Pemda Kabupaten Lampung Barat. Kamis, 19 Juni 2025.
Kegiatan Bidang Kewaspadaan Nasional dan Penanganan Koflik Badan Kesatuan Bangsa dan Politik mengacu pada dasar kegiatan dengan Nomor DPA-/DPPAL-/DPPA-SKPD 8.01.06.2.01.06.
Membuka langsung kegiatan pada Sosialisasi Intelijen Mengantisipasi Paham Radikalisme, Intoleran, dan Anti Pancasila Tahun 2025, Asisten Pemerintah dan Kesra Ahmad Hikami menyampaikan bahwa pancasila harus menjadi landasan dasar ideologi bangsa pada kehidupan sehari-hari demi mencegah aktif paham intoleran sebagai sebuah ancaman.
"Mari kita sama-sama menjaga toleransi antar umat beragama, suku, dan budaya. Untuk itu dihadirkan narasumber yang sudah ahli dalam menangkal paham radikalisme seperti pemateri asal Kodim 0422, Kasat Intel Polres, dan juga Kemenag Lampung Barat. Harapannya, kita bersama-sama dapat mencegah dan mengantisipasi paham radikalisme sehingga dapat menciptakan masyarakat yang damai dan sejahtera," ajaknya.
Lebih lanjut, Materi yang diusung oleh Kementerian Agama Kabupaten Lampung Barat ialah tentang moderasi beragama dalam kehidupan beragama, Plt. Peny. Hindu Wayan Hadi Wiryana menyampaikan bahwa moderasi beragama menjadi salah satu point penting yang harus dipahami oleh seluruh lapisan masyarakat.
"Isu agama menjadi salah satu alat yang sering digunakan oleh kelompok yang paham radikalisme, intoleran, bahkan anti pancasila bahkan sampai ads terorisme yang berkedok agama," jelas Wayan.
Pemahaman akan materi yang digulirkan berbagai narasumber, termasuk Kemenag dalam moderasi beragama terus digalakkan demi memberikan pemahaman kepada khalayak ramai dari berbagai penjuru.
"Masyarakat memang harus menerima asupan materi yang menguatkan pemahaman-pemahaman dalam upaya mencegah. Semakin kuat pemahaman masyarakat akan toleransi maka semakin kecil dampak negatif dari paham radikalisme," imbuhnya.
Terakhir, Wayan menjabarkan fenomena gunung es, dan memahami cara kompleksitas moderasi beragama melalui pendekatan analisis The Iceberg model. "Moderasi beragama sebagai awal menumbuhkan sikap toleransi sehingga tercipta kerukunan dan kedamaian," tutupnya. (Boy/K.TU)
sosialisasi-intelijen-upaya-pencegahan-paham-radikalisme
Fotografer:
Humas Kanwil
Editor:
Humas Kanwil
Copyright :
Datin Kanwil
