Search

Sutiah, Peziarah Senja dari Sidomulyo: Menapak Tanah Suci di Usia 107 Tahun

sutiah-peziarah-senja-dari-sidomulyo-menapak-tanah-suci-di-usia-107-tahun
Fotografer: Humas Kanwil

Lampung Kemenag (Humas)--Sinar matahari pagi menyapu pelataran Asrama Haji Antara Lampung, ketika rombongan calon jemaah haji kloter 19 JKG yang merupakan kloter ke 5 Lampung asal Kabupaten Lampung Selatan memasuki komplek asrama. Di tengah hiruk-pikuk koper dan langkah tergesa, tampak seorang perempuan tua perlahan turun dari bus. Tubuhnya sedikit membungkuk, namun langkahnya ringan dan penuh semangat. Dialah Sutiah binti Sunyoto, calon jemaah haji tertua dari Provinsi Lampung tahun 2025 yang berusia 107 tahun.

Lahir pada 3 Oktober 1917 di Sidomulyo, Lampung Selatan, Sutiah bukan hanya membawa tas tenteng kecil  yang berisi kue dan semangat spiritual dalam perjalanannya ke Tanah Suci. Ia membawa sejarah panjang, pengalaman hidup yang lebih dari  seabad, serta  kesederhanaan dan ketulusan yang menggetarkan hati.

Tak ada yang istimewa dari penampilan Sutiah—kerudung seragam yang sama dengan Jemaah lainnya,  baju gamis sederhana, dan sepasang sandal yang masih tampak baru. Tapi kehadirannya membuat siapa pun menoleh. Ia menolak kursi roda. Ia lebih memilih menapaki  jalan menuju aula Madinatul Hujjaj tempat Jemaah diterima dan melakukan serangkaian proses pemeriksaan.

"Alhamdulillah, saya masih kuat jalan. Nggak apa-apa pelan-pelan yang penting bisa sampai," ucap Sutiah dengan senyum yang tak lekang, saat menyapa petugas yang menyambutnya.

Sehari-hari, ia menjalani hidup sederhana. Tak banyak aktivitas berat, tapi cukup menjaga tubuhnya tetap bergerak. Ia mengaku masih menyapu halaman sendiri, mencabut rumput liar, membersihkan rumah, dan sesekali menengok sawah kecil peninggalan almarhum suaminya.

“Saya nggak kerja berat, cuma bersih-bersih di rumah. Kadang ke sawah, lihat-lihat aja,” tuturnya lembut.

Sutiah telah lama ditinggal suaminya. Dari pernikahan mereka, lahir sembilan anak yang kini sudah berkeluarga. Para anak dan cucunya bergantian menemani hari-hari senjanya. Namun, semangat hidup dan kemandiriannya tak pernah luntur. Ia bahkan menjalani proses pendaftaran haji dengan tertib, mengikuti bimbingan manasik, dan tetap hadir dalam setiap tahapan persiapan.

Yang menarik, rahasia kesehatan Sutiah tampaknya terletak pada pola hidup yang sangat sederhana. Ia tidak makan makanan olahan, tidak suka ayam potong, jarang makan daging atau telur, dan kalaupun makan ikan laut, ia pastikan itu benar-benar segar. Makanan favoritnya: daun singkong rebus dan tempe.

“Saya ndak makan yang aneh-aneh. Dari muda ya makan itu saja,” katanya terkekeh. “Air putih, sayur, sama tempe. Udah cukup.”

Petugas kesehatan yang memeriksa kondisi jemaah di asrama bahkan dibuat kagum dengan kondisi Sutiah. Meski usianya jauh melampaui batas rata-rata, semua hasil pemeriksaannya menunjukkan angka yang luar biasa stabil.

“Saya sempat kaget. Tekanan darah Ibu Sutiah normal,  Gula darah juga stabil. Tidak ada keluhan berarti,” ujar petugas kesehatan dari tim Kantor Kesehatan Pelabuhan. “Beliau tidak hanya sehat secara fisik, tapi juga punya semangat yang luar biasa. Mentalnya sangat siap.”

Dalam rombongan, Sutiah tak sendiri. Seorang kerabat jauhnya, Habibi, juga turut serta dalam perjalanan haji tahun ini. Habibi yang oleh putra putri sutiah dipasrahi untuk menjadi mahram ini menyebut kehadiran nenek Sutia itu sebagai penyemangat bagi semua jemaah.

“Beliau luar biasa. Kami yang muda justru malu kalau ngeluh. Lihat Mbah Sutiah saja masih semangat dan mandiri,” ujar Habibi yang kali ini berangkat sebagai jemaah dari kloter yang sama.

Harapan Sutiah tak muluk-muluk. Ia tidak minta fasilitas khusus, tidak juga banyak bicara soal kesulitan. Satu-satunya doa yang ia ucapkan hanyalah: semoga diberi kesehatan, kelancaran, dan pulang ke tanah air dengan gelar haji mabrur.

“Kalau bisa pulang sehat, ndak kurang apa-apa, itu sudah syukur. Saya cuma pengen bisa sujud di depan Ka’bah,” ucapnya dengan suara bergetar.

Di tengah segala kemajuan teknologi, akomodasi modern, dan dinamika penyelenggaraan ibadah haji saat ini, Sutiah hadir sebagai simbol ketulusan, kesederhanaan, dan keteguhan niat. Ia mengajarkan bahwa tak ada kata terlambat untuk memenuhi panggilan-Nya, selama tubuh masih hidup dan hati masih menyala. (Alifah)

 


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil