Tulang Bawang Barat, Kemenag (Humas)-Dalam upaya meningkatkan kualitas spiritual dan kesadaran sosial umat, Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) menggelar kegiatan pembinaan dan penyuluhan keagamaan. Kegiatan yang berlangsung khidmat ini dipusatkan di Tiyuh Gunung Menanti, Kecamatan Tumijajar, Kabupaten Tubaba, Selasa (30/06/26)
Mengangkat tema "Tingkatkan Kesadaran Berdana, Penyuluhan Hindu Kupas Tuntas Seni Mengelola Harta Berbasis Dharma", acara ini dihadiri oleh umat Hindu setempat yang antusias memperdalam pemahaman mengenai konsep kepemilikan dan pengelolaan materi dalam ajaran agama.
Dalam sesi penyuluhan, Penyuluh Agama Hindu Kab. Tubaba menekankan bahwa harta benda yang dimiliki manusia merupakan sarana (sadhananing dharma) untuk mencapai kebahagiaan universal. Oleh karena itu, umat diajak untuk mengikis sifat kikir dan meningkatkan kesadaran berdana punia (berbagi secara tulus ikhlas). Sesuai sastra suci, pengelolaan harta yang bijaksana harus dibagi proporsional ke dalam tiga bagian (Tri Bhaga): untuk memenuhi kewajiban suci dan sosial (Dharma), mengembangkan usaha (Artha), serta memenuhi kebutuhan hidup (Kama).
"Dhana punia bukan tentang kehilangan, melainkan investasi rohani. Ketika umat memiliki kesadaran tinggi untuk berdana dan mengelola harta berbasis Dharma, maka ketahanan ekonomi umat akan kuat dan keberkahan hidup akan selalu menyertai," ujar Penyuluh Agama Hindu Tubaba saat menyampaikan materi.
Sebagai bentuk aksi nyata dan kepedulian langsung terhadap kesejahteraan hidup umat, Penyuluh Agama Hindu dalam kegiatan ini juga menyerahkan Kartu Kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan sektor Bukan Penerima Upah (BPU) kepada umat Hindu setempat. Fasilitas perlindungan ini berhasil diwujudkan berkat inisiatif dan kerja sama nyata yang dibangun oleh Penyuluh Agama Hindu Kab. Tubaba dengan pihak BPJS Ketenagakerjaan. Melalui program ini, umat yang mayoritas bekerja di sektor mandiri dan informal kini mendapatkan jaminan perlindungan atas risiko kerja, seperti Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) dan Jaminan Kematian (JKM).
Masyarakat Tiyuh Gunung Menanti menyambut hangat program terpadu ini. Mereka merasa bersyukur karena selain mendapatkan siraman rohani yang membuka kesadaran untuk berdana, mereka juga mendapatkan kepastian perlindungan jaminan sosial yang diinisiasi langsung oleh para penyuluh agama mereka (Sekar/Nur/Ehsan)