Pringsewu, Kanwil Kemenag (Humas) — Profesionalisme guru tidak lahir semata dari penguasaan materi ajar, tetapi dari keseimbangan antara ilmu pengetahuan, sikap, keterampilan, serta kemampuan beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Penegasan tersebut disampaikan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zulkarnain, saat membuka Workshop Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajaran Berbasis Ekoteologi dan Kurikulum Berbasis Cinta, Senin (19/1/2026), di MIN 1 Pringsewu.
Workshop yang diikuti 60 guru dari Kelompok Kerja Guru (KKG) Kementerian Agama Kabupaten Pringsewu dan Kabupaten Lampung Tengah ini menjadi bagian dari penguatan mutu pembelajaran madrasah yang berorientasi pada karakter, kepedulian lingkungan, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Dalam sambutannya, Zulkarnain menegaskan bahwa guru profesional harus memiliki keseimbangan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Di era digital, keseimbangan tersebut harus diperkuat dengan penguasaan teknologi informasi sebagai sarana pembelajaran yang efektif dan relevan.
“Guru tidak cukup hanya cerdas secara akademik. Ia harus memiliki sikap, keterampilan, dan kemampuan memanfaatkan teknologi agar pembelajaran menjadi bermakna dan kontekstual,” ujarnya.
Menurut Zulkarnain, pembelajaran berbasis ekoteologi menjadi pendekatan strategis dalam menanamkan kesadaran ekologis yang berakar pada nilai keimanan. Peserta didik diajak memahami bahwa menjaga lingkungan merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan spiritual manusia.
Selain itu, ia menjelaskan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Kementerian Agama merupakan pendekatan pendidikan karakter yang berlandaskan pada lima pilar utama, yakni cinta kepada Tuhan, cinta kepada diri sendiri dan sesama, cinta kepada ilmu pengetahuan, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada bangsa dan negara.
“Kurikulum Berbasis Cinta menempatkan kasih sayang, empati, dan penghargaan terhadap sesama sebagai ruh pendidikan. Ilmu tanpa sikap akan kehilangan arah. Karena itu, pembelajaran harus dibangun dengan cinta agar memberi dampak nyata bagi kehidupan,” katanya.
Melalui workshop ini, Zulkarnain berharap para guru madrasah mampu menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman, berakar pada nilai keagamaan, serta membentuk karakter peserta didik secara utuh.
