Hijrah Nabi Muhammad saw merupakan salah satu peristiwa paling menentukan dalam sejarah Islam. Ia bukan sekadar perpindahan fisik dari Makkah menuju Madinah, bukan pula sekadar upaya menyelamatkan diri dari ancaman kaum Quraisy.
Hijrah adalah titik balik lahirnya sebuah peradaban besar. Dari peristiwa inilah Islam tumbuh menjadi kekuatan yang mampu mengubah wajah dunia. Hijrah adalah peralihan dari fase tekanan menuju fase pembangunan, dari posisi tertindas menuju tegaknya masyarakat yang berlandaskan tauhid, keadilan, dan persaudaraan.
Setelah berhasil keluar dari kepungan kaum Quraisy yang berencana membunuhnya, Rasulullah saw segera menuju rumah sahabat tercinta beliau, Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. Malam itu sangat sunyi, tetapi juga sangat menegangkan. Di berbagai sudut Kota Makkah, para pemburu Quraisy telah disebar untuk mencari jejak Rasulullah saw.
Untuk mengelabui para pengejar, Rasulullah saw dan Abu Bakar tidak mengambil jalur utara menuju Madinah, sebagaimana lazimnya para musafir. Sebaliknya, mereka bergerak ke arah selatan, menuju sebuah bukit terjal bernama Jabal Tsur yang berjarak sekitar lima kilometer dari Makkah.
Di puncak bukit itulah terdapat sebuah gua kecil yang kemudian menjadi saksi salah satu kisah persahabatan paling agung dalam sejarah manusia.
Ketika sampai di mulut gua, Abu Bakar tidak langsung mempersilakan Rasulullah saw masuk. Dengan penuh kewaspadaan ia berkata: “Wahai Rasulullah, janganlah engkau masuk sebelum aku. Biarlah aku yang masuk terlebih dahulu. Jika ada sesuatu yang membahayakan, biarlah aku yang terkena, bukan engkau.”
Kalimat itu lahir dari cinta yang tulus. Abu Bakar tidak sedang mencari pujian. Ia tidak sedang menunjukkan keberanian. Ia hanya ingin memastikan keselamatan orang yang paling dicintainya setelah Allah.
Abu Bakar pun masuk lebih dahulu ke dalam gua. Ia memeriksa setiap sudut dengan teliti. Duri-duri dan bebatuan yang mengganggu dibersihkannya. Lubang-lubang yang berpotensi menjadi sarang binatang berbisa ditutup satu per satu dengan sobekan kain yang dikenakannya.
Namun setelah semua kainnya habis, masih tersisa satu lubang yang belum tertutup. Tanpa berpikir panjang, Abu Bakar menutup lubang itu dengan tumit kakinya. Setelah merasa aman, barulah ia mempersilakan Rasulullah saw masuk ke dalam gua.
Perjalanan panjang dan melelahkan membuat Rasulullah saw beristirahat. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa beliau merebahkan kepala di pangkuan Abu Bakar dan tertidur. Di saat itulah ujian datang. Dari lubang yang ditutup oleh tumit Abu Bakar keluar seekor kalajengking atau binatang berbisa yang kemudian menyengat kakinya.
Rasa sakitnya luar biasa. Sengatan itu menembus hingga ke seluruh tubuhnya. Namun Abu Bakar tidak bergerak sedikit pun. Ia khawatir jika ia menarik kakinya atau mengaduh, Rasulullah saw yang sedang beristirahat akan terbangun.
Ia memilih menahan rasa sakit itu seorang diri. Semakin lama rasa sakit semakin menjadi. Air mata Abu Bakar pun mulai mengalir. Beberapa tetes jatuh ke wajah Rasulullah saw.
Beliau terbangun dan bertanya: “Mengapa engkau menangis, wahai Abu Bakar?” Dengan suara pelan Abu Bakar menceritakan apa yang terjadi. Rasulullah saw kemudian mengusap bagian yang tersengat dan mendoakannya. Dengan izin Allah, rasa sakit itu pun hilang seketika. Begitulah persahabatan mereka.
Yang satu rela menanggung sakit demi keselamatan sahabatnya, yang satu lagi tidak pernah membiarkan sahabatnya menanggung penderitaan sendirian.
Sementara itu, kaum Quraisy terus melakukan pengejaran. Mereka menyisir berbagai jalur dan memeriksa setiap tempat yang dicurigai.
Akhirnya sebagian dari mereka berhasil sampai tepat di mulut Gua Tsur. Jarak mereka dengan Rasulullah saw dan Abu Bakar hanya beberapa langkah saja.
Abu Bakar menjadi sangat cemas. Bukan karena takut terhadap keselamatan dirinya. Tetapi karena khawatir jika Rasulullah saw ditemukan.
Dengan suara lirih ia berkata: “Wahai Rasulullah, seandainya salah seorang dari mereka melihat ke arah kakinya, niscaya mereka akan melihat kita.”
Saat itulah Rasulullah saw mengucapkan kalimat yang kemudian menjadi sumber ketenangan bagi setiap mukmin sepanjang zaman: “Wahai Abu Bakar, bagaimana pendapatmu tentang dua orang yang Allah adalah yang ketiga bersama mereka?” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam riwayat Al-Qur’an, peristiwa itu diabadikan oleh Allah: “Ketika dia berkata kepada sahabatnya, ‘Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.’ “(QS. At-Taubah: 40).
Kalimat itu seketika menenangkan hati Abu Bakar. Sementara di luar gua, para pengejar terus mencari. Namun Allah telah menyiapkan perlindungan-Nya. Di mulut gua terdapat sarang laba-laba yang tampak utuh membentang. Di dekatnya seekor burung merpati sedang mengerami telurnya.
Para pengejar pun berkesimpulan: “Mustahil ada orang masuk ke dalam gua ini. Jika ada yang masuk, tentu sarang laba-laba itu akan rusak dan burung itu akan terbang.”
Mereka pun pergi meninggalkan tempat itu. Padahal orang yang mereka cari berada hanya beberapa langkah dari mereka. Allah menunjukkan bahwa ketika pertolongan-Nya datang, sesuatu yang tampak lemah dapat menjadi benteng yang sangat kuat. Sarang laba-laba dan seekor burung merpati menjadi bagian dari skenario Ilahi untuk menjaga kekasih-Nya.
Demikianlah Rasulullah saw dan Abu Bakar selamat dari pengejaran. Dari gua yang sederhana itu kemudian dimulai perjalanan besar yang mengubah sejarah dunia.
Kisah Gua Tsur bukan sekadar cerita pelarian dari kejaran musuh. Ia adalah kisah tentang cinta, pengorbanan, persahabatan, keyakinan, dan pertolongan Allah yang nyata. Setiap bagian dari kisah ini mengandung pelajaran yang tetap relevan hingga hari ini.
Di zaman sekarang, tidak sulit menemukan orang yang datang ketika kita berada di puncak keberhasilan. Saat memiliki jabatan, kekuasaan, kekayaan, atau popularitas, banyak orang mengaku sebagai sahabat. Mereka hadir di sekitar kita, memuji, mendukung, dan menunjukkan kedekatan.
Namun ketika ujian datang, keadaan berubah. Jabatan hilang, kekayaan berkurang, pengaruh memudar, maka satu per satu orang mulai menjauh. Sebagian memilih diam, sebagian menjaga jarak, bahkan ada yang ikut menjatuhkan demi menyelamatkan dirinya sendiri.
Abu Bakar menunjukkan makna persahabatan yang sesungguhnya. Ia tidak bersama Nabi ketika keadaan aman dan nyaman saja. Ia justru berada di samping Rasulullah saw pada saat paling berbahaya dalam hidup beliau. Ketika semua orang mencari Muhammad untuk dibunuh, Abu Bakar memilih berjalan di sampingnya. Ketika ancaman datang dari segala arah, Abu Bakar tidak mencari jalan selamat untuk dirinya sendiri. Ia justru menjadikan dirinya sebagai tameng bagi sahabatnya.
Persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering kita bersama dalam kegembiraan, tetapi seberapa setia kita bertahan dalam kesulitan.
Abu Bakar tidak sekadar mengatakan bahwa ia mencintai Rasulullah saw. Ia membuktikannya. Ia masuk gua terlebih dahulu. Ia membersihkan gua. Ia menutup lubang-lubang berbahaya. Ia rela tubuhnya disengat binatang berbisa. Ia menahan rasa sakit demi menjaga tidur Rasulullah saw.
Begitulah cinta yang tulus. Ia tidak banyak berbicara, tetapi banyak berkorban. Hari ini banyak orang mengaku mencintai, tetapi enggan berkorban. Banyak yang ingin mendapatkan manfaat dari sebuah hubungan, tetapi sedikit yang bersedia menanggung risikonya.
Abu Bakar mengajarkan bahwa cinta sejati selalu dibuktikan dengan kesediaan memberi, bukan sekadar menerima. Saling Menenangkan di Saat Sulit
Perhatikan bagaimana hubungan Nabi dan Abu Bakar dalam gua itu. Ketika Abu Bakar menjaga Nabi, Nabi menghargainya. Ketika Abu Bakar kesakitan, Nabi mendoakannya. Ketika Abu Bakar ketakutan, Nabi menenangkannya. Mereka saling menjaga, saling menguatkan, dan saling menghibur.
Inilah teladan hubungan yang sehat, baik dalam persahabatan, keluarga, maupun kepemimpinan. Tidak cukup hanya hadir secara fisik. Kehadiran sejati adalah ketika kita mampu menjadi sumber ketenangan bagi orang lain.
Kadang manusia tidak membutuhkan solusi yang rumit. Ia hanya membutuhkan seseorang yang berkata dengan tulus, “Saya ada bersamamu.” Dan itulah yang dilakukan Rasulullah saw kepada Abu Bakar.
Kisah hijrah mengajarkan bahwa tawakal bukan berarti pasrah tanpa usaha. Rasulullah saw menyusun strategi dengan sangat matang. Beliau memilih jalur yang tidak biasa, bersembunyi di Gua Tsur, menyiapkan penunjuk jalan, dan mengatur logistik perjalanan.
Semua ikhtiar dilakukan secara maksimal. Tetapi setelah itu, beliau menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Karena itu, seorang mukmin tidak boleh memilih antara usaha atau tawakal. Keduanya harus berjalan bersama. Ikhtiar adalah tugas manusia, sedangkan hasil akhir adalah hak Allah.
Siapa yang menyangka bahwa sarang laba-laba dan seekor burung merpati dapat menggagalkan operasi pencarian terbesar yang dilakukan Quraisy? Allah ingin menunjukkan bahwa Dia tidak membutuhkan pasukan besar untuk menolong hamba-Nya.
Jika Allah berkehendak, makhluk yang paling lemah sekalipun dapat menjadi alat pertolongan-Nya. Karena itu jangan pernah putus asa ketika menghadapi masalah yang tampak besar. Sebab sering kali pertolongan Allah datang dari arah yang tidak pernah kita bayangkan.
Dan pesan terbesar dari Gua Tsur adalah ini: ketika seluruh pintu dunia tampak tertutup, ketika ancaman datang dari segala arah, ketika manusia tidak lagi mampu memberi pertolongan, masih ada satu pintu yang selalu terbuka, yaitu pertolongan Allah. Karena itu kalimat Rasulullah saw kepada Abu Bakar akan selalu relevan sepanjang zaman: “Janganlah bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”
Kalimat itulah yang mengubah ketakutan menjadi ketenangan, kecemasan menjadi keyakinan, dan kelemahan menjadi kekuatan. Sebab bersama Allah, tidak ada keadaan yang benar-benar buntu, dan tidak ada kesulitan yang tidak memiliki jalan keluar. Dan bersama Allah, Asa tidak pernah sirna…
Wallahu’alam