Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Kisah Inspiratif

Letaknya Kemuliaan Ada Di Hati

Jumat, 03 Juli 2026 Fadilah
Letaknya Kemuliaan Ada Di Hati
Fadilah
Fadilah

Seringkali manusia menilai dengan ukuran yang keliru: siapa yang kaya, dialah yang dihormati; siapa yang berkuasa, dialah yang didengar; siapa yang terkenal, dialah yang diutamakan. Sementara mereka yang lemah, yang sederhana, yang tak terlihat—seringkali terpinggirkan, bahkan diabaikan. Padahal, di hadapan Allah, ukuran itu sama sekali tidak berlaku. Justru dari sebuah peristiwa sederhana—ketika seorang lelaki buta datang meminta ilmu—langit pernah turun menegur bumi, meluruskan cara pandang manusia untuk selamanya.

Suatu hari, Rasulullah saw sedang memberikan nasihat dan dakwah kepada para pembesar Quraisy. Di hadapan beliau duduk tokoh-tokoh penting Makkah—orang-orang yang jika menerima Islam, diharapkan dapat membawa pengaruh besar bagi perkembangan dakwah.

Di tengah suasana itu, datanglah seorang laki-laki tua yang buta. Ia adalah Abdullah bin Ummi Maktum ra. Dengan penuh harap, ia mendekat seraya berkata, “Wahai Rasulullah, ajarkanlah kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.”

Permintaan itu diulanginya beberapa kali. Namun saat itu Rasulullah saw tengah menaruh harapan besar kepada para pembesar Quraisy. Beliau ingin fokus kepada mereka, dengan harapan jika mereka beriman, maka jalan dakwah akan menjadi lebih luas dan lebih mudah.

Dalam situasi seperti itu, Rasulullah saw tampak sedikit berkerut wajahnya dan kurang berkenan terhadap selaan tersebut. Bukan karena meremehkan Abdullah bin Ummi Maktum, melainkan karena pertimbangan strategi dakwah yang sedang beliau jalankan.

Namun tidak lama kemudian, turunlah teguran langsung dari langit—teguran yang begitu lembut, tetapi mengguncang. Allah berfirman: “Dia (Muhammad) berwajah masam dan berpaling, karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah engkau (Muhammad), barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa), atau ia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya.” (QS. ‘Abasa: 1–4)

Ayat ini menjadi pelajaran yang sangat dalam, bukan hanya bagi Rasulullah saw, tetapi juga bagi seluruh umat manusia sepanjang zaman. Bahwa nilai seseorang di hadapan Allah tidak ditentukan oleh kedudukan, kekuasaan, atau pengaruhnya di mata manusia, melainkan oleh ketulusan hati dan kesungguhannya dalam mencari kebenaran.

Rasulullah saw pun tersadar. Sejak saat itu, sikap beliau berubah dengan sangat indah. Setiap kali bertemu dengan Abdullah bin Ummi Maktum, beliau menyambutnya dengan penuh penghormatan dan kasih sayang, seraya berkata: “Selamat datang wahai orang yang karenanya Tuhanku menegurku.”

Tidak hanya memuliakannya dengan kata-kata, Rasulullah saw juga menunjukkan penghormatan itu dalam bentuk kepercayaan. Abdullah bin Ummi Maktum diangkat sebagai muadzin bersama Bilal bin Rabah. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw mempercayakannya sebagai wakil beliau untuk mengurus Madinah ketika beliau bepergian keluar kota. Sebuah bukti bahwa dalam Islam, kemuliaan dan kepemimpinan tidak ditentukan oleh kesempurnaan fisik, melainkan oleh iman, amanah, dan kapasitas yang dimiliki seseorang.

Kisah ini bukan sekadar cerita sejarah, tetapi cermin nyata bagi kehidupan kita hari ini. Betapa sering manusia terjebak dalam cara pandang yang keliru—terlalu memuliakan mereka yang “besar” di mata dunia; besar karena jabatan, harta, kedudukan, atau popularitas. Tidak sedikit yang menggantungkan harapan kepada mereka, bahkan ada yang rela mengabaikan perintah Allah demi menjaga hubungan atau penghormatan kepada sesama manusia.

Sebaliknya, terhadap orang-orang yang lemah—yang miskin, yang sederhana, bahkan yang memiliki keterbatasan—seringkali kita abai. Tidak dihargai, tidak didengar, bahkan terkadang dipandang rendah.

Padahal bisa jadi, justru merekalah yang lebih dekat kepada Allah. Mereka datang dengan hati yang bersih, dengan keikhlasan, dan dengan kerinduan untuk belajar serta memperbaiki diri.

Bukankah Rasulullah saw telah mengingatkan: “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Abdullah bin Ummi Maktum mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan tidak terletak pada apa yang tampak oleh mata, tetapi pada apa yang hidup di dalam hati.

Dan Rasulullah saw telah memberi teladan yang agung: bahwa ketika kebenaran datang, bahkan seorang Nabi pun menerimanya dengan lapang dada, lalu segera memperbaiki diri dengan sebaik-baiknya.

Karena pada akhirnya, di hadapan Allah, semua manusia adalah sama. Tidak ada yang lebih tinggi, tidak ada yang lebih mulia, kecuali karena ketakwaannya. “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling bertakwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Maka berhati-hatilah dalam memandang manusia. Jangan sampai kita memuliakan yang besar di mata dunia, tetapi meremehkan yang mulia di sisi Allah. Bisa jadi, orang yang hari ini kita abaikan, justru kelak menjadi sebab teguran Allah kepada kita. Dan bisa jadi, orang yang kita anggap kecil, justru lebih dahulu sampai kepada ridha-Nya. Karena itu, sebelum Allah menegur kita dengan cara yang lebih keras, belajarlah untuk melihat dengan hati—bukan sekadar dengan mata. (*)

Wallau’alam