Search

Kisah Inspiratif

Ritual Lempar Jumroh, Revolusi Hati Melawan Nafsu Dan Keserakahan

ritual-lempar-jumroh-revolusi-hati-melawan-nafsu-dan-keserakahan
Fotografer: Humas Kanwil
Penulis: Kepala Bidang Penais Zawa (H. Makmur)

Di antara rangkaian ibadah haji, lontar jumrah adalah salah satu momen yang paling menarik perhatian. Jutaan jamaah dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Mina, menggenggam kerikil, lalu melemparkannya ke tiga titik jumrah. Sepintas, ia tampak sederhana: hanya melempar batu. Namun di balik gerakan itu, tersimpan sejarah panjang, jejak ketaatan Nabi Ibrahim, dan pesan spiritual yang sangat dalam bagi kehidupan manusia hingga hari ini.

Ketika Nabi Ibrahim alaihissalam melihat dalam mimpinya bahwa ia harus menyembelih putranya, Ismail, ia tidak menganggapnya sekadar bunga tidur. Ia memahami bahwa itu adalah wahyu dari Allah. Dengan hati yang bergetar namun penuh keyakinan, ia menyampaikan hal itu kepada putranya: Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu. (QS. As-Saffat: 102)

Jawaban Ismail bukanlah penolakan, melainkan ketundukan yang luar biasa: Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. (QS. As-Saffat: 102). Inilah dialog iman antara ayah dan anak, antara perintah dan ketaatan, antara ujian dan keteguhan.

Dalam perjalanan menuju Mina untuk melaksanakan perintah itu, Nabi Ibrahim tidak berjalan sendiri. Ia dibimbing oleh Malaikat Jibril. Namun perjalanan itu bukan tanpa gangguan. Iblis datang menghadang, berusaha menggoyahkan tekad Ibrahim.

Di tempat yang kini dikenal sebagai Jumrah Aqabah, setan mencoba membisikkan keraguan: Bagaimana mungkin engkau tega menyembelih anakmu sendiri? Namun Ibrahim tidak goyah. Ia mengambil tujuh butir kerikil, lalu melemparkannya ke arah setan. Lemparan itu bukan sekadar fisik, tetapi simbol perlawanan terhadap godaan. Setan pun terusir.

Rasulullah saw bersabda: Sesungguhnya Jibril membawa Nabi Ibrahim ke Jumrah Aqabah, lalu setan menghadangnya, maka Ibrahim melemparnya dengan tujuh batu hingga ia menghilang (HR. Ahmad)

Setan belum menyerah. Ia kembali muncul di tempat berikutnya, mencoba menggoda Siti Hajar agar menghentikan suaminya. Namun Hajar, perempuan tangguh yang imannya teruji, juga tidak goyah. Ia pun ikut melempar godaan itu menolak bisikan yang melemahkan keimanan.

Di tempat berikutnya lagi, setan mencoba menggoda Ismail. Ia menyasar sisi yang tampak lemah: usia muda, kasih sayang terhadap kehidupan. Namun Ismail telah menyiapkan hatinya. Ia lebih memilih taat daripada ingkar, lebih memilih ridha Allah daripada dunia. Tiga kali setan datang, tiga kali pula ia diusir dengan tujuh lemparan setiap kali.

Akhirnya, tibalah saat penyembelihan itu. Ketika keduanya telah berserah diri, dan Ibrahim telah membaringkan Ismail, Allah menurunkan pertolongan-Nya: Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. (QS. As-Saffat: 107). Perintah itu bukan untuk menghilangkan nyawa, tetapi untuk menguji iman. Dan mereka telah lulus dengan sempurna.

Peristiwa ini kemudian diabadikan dalam ibadah haji, menjadi ritual melontar jumrah. Namun sejatinya, ini bukan sekadar melempar batu, melainkan napak tilas perjuangan iman melawan godaan setan.

Di sinilah letak hikmah yang mendalam. Setan tidak pernah berhenti menggoda manusia. Bahkan ia bersumpah di hadapan Allah: Ya Tuhanku, karena Engkau telah menyesatkanku, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan maksiat) di bumi, dan aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang ikhlas. (QS. Al-Hijr: 39-40)

Godaan itu tidak selalu datang dalam bentuk keburukan yang jelas. Justru sering hadir dalam bentuk yang tampak indah dan menggiurkan. Hari ini, Setan tidak selalu kita bayangkan sebagai sosok gaib yang menakutkan. Ia bisa hadir dalam bentuk ambisi yang tak terkendali.

Seorang birokrat bisa tergoda oleh jabatan dan kekuasaan. Demi kursi, segala cara ditempuh: manipulasi, suap, bahkan mengorbankan integritas. Setelah berkuasa, ia lupa bahwa amanah adalah tanggung jawab, bukan kesempatan untuk menindas.

Seorang pencinta harta bisa tergoda oleh kekayaan. Ia menghalalkan segala cara: korupsi, gratifikasi, penimbunan. Harta tidak lagi menjadi alat, tetapi menjadi tujuan.

Yang lain tergoda oleh popularitas, kemewahan, pengakuan. Semua itu tampak indah, namun bisa menjerumuskan jika tidak dikendalikan oleh iman.

Padahal Rasulullah saw telah mengingatkan: Sesungguhnya setan mengalir dalam diri manusia melalui aliran darahnya. (HR. Bukhari dan Muslim). Artinya, musuh itu sangat dekat bahkan menyatu dalam bisikan hati dan dorongan nafsu.

Karena itu, melontar jumrah sesungguhnya adalah simbol perlawanan yang harus terus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Kerikil-kerikil itu adalah tekad. Tujuh lemparan itu adalah keteguhan yang berulang. Dan sasaran itu adalah sifat-sifat buruk dalam diri kita sendiri.

Melawan setan tidak cukup sekali. Harus berulang, terus-menerus, dan tepat sasaran. Kita harus melempar kesombongan ketika ia mulai tumbuh. Membuang iri dan dengki ketika ia menggerogoti hati. Mengusir riya ketika amal mulai ternodai. Dan menolak ambisi yang melampaui batas. Karena penyakit hati seperti iri, sombong, dan angkuh tidak terlihat, tetapi jauh lebih berbahaya daripada penyakit fisik. Ia tidak hanya merusak diri sendiri, tetapi juga merusak lingkungan.

Pada akhirnya, melontar jumrah bukan hanya ritual tahunan di tanah suci. Ia adalah latihan spiritual untuk kehidupan sehari-hari. Setiap hari kita berhadapan dengan jumrah kita masing-masing. Setiap hari kita diuji dengan setan dalam berbagai bentuk. Dan setiap hari kita dituntut untuk tetap melempar menolak, melawan, dan membersihkan diri.

Maka, teruslah melontar jumrah dalam kehidupan kita: melontar hawa nafsu, melontar godaan dunia, melontar sifat-sifat syaitaniyah dalam diri. Agar hati kita tetap bersih, iman kita tetap kokoh, dan kita termasuk hamba yang selamat qolbun salim, hati yang kembali kepada Allah dalam keadaan suci. (*)


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil