Pringsewu - Di sudut kantin MAN 1 Pringsewu, ada sosok yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari siswa dan guru. Sejak 2012, Ibu Rigo yang karib disapa Teteh, telah melayani banyak orang dengan berbagai menu makanan dan minuman yang ia sajikan. Dalam 12 tahun perjalanannya, kantin kecil miliknya telah menjadi saksi perkembangan sekolah, perubahan siswa, dan segudang cerita yang tak terlupakan.
"Saya mulai berjualan di kantin MAN 1 Pringsewu sejak tahun 2012," ujar Teteh dengan senyum hangat yang menjadi ciri khasnya.
"Rasanya senang dan seru bisa bertemu dengan banyak orang, khususnya kalian, murid-murid MAN 1 Pringsewu, yang selalu memberi warna dalam keseharian saya," imbuhnya kepada Laskar Tinta Emas.
Tidak hanya sekadar tempat untuk membeli makanan, kantin Teteh telah menjadi ruang pertemuan tak resmi di mana siswa-siswa berbagi cerita, tertawa, bahkan menyelesaikan tugas. Teteh pun kerap menjadi saksi berbagai momen penting dalam kehidupan sekolah, mulai dari gembira usai ujian, hingga canda tawa saat istirahat.
"Bisa ketemu banyak orang, setiap hari ada saja cerita baru. Siswa-siswa MAN 1 Pringsewu itu memang unik, setiap angkatan punya karakter berbeda, tapi semuanya selalu bikin saya merasa terhubung dengan sekolah ini," lanjutnya.
Bagi Teteh, pengalaman 12 tahun berdagang di kantin bukanlah perjalanan yang mudah, tapi juga bukan tanpa kebahagiaan. Ia mengaku sangat bersyukur dengan rezeki yang ia dapatkan, meskipun bagi sebagian orang mungkin tidak besar, namun baginya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Penghasilan Alhamdulillah, disyukuri saja. Setiap hari ada saja yang beli, dan saya yakin, rezeki itu sudah diatur. Yang penting kita kerja keras dan selalu memberikan yang terbaik," ungkapnya dengan penuh syukur.
Saat ditanya tentang tantangan atau kendala yang pernah ia hadapi selama berjualan, Teteh melempar senyum.
"Alhamdulillah, untuk sekarang semuanya sudah oke. Kalau dulu, masalah yang sering terjadi itu soal air. Kadang air mati atau kurang lancar, jadi agak sulit kalau mau masak atau mencuci. Tapi sekarang semua sudah lebih baik, jadi ya nggak ada keluhan lagi."
Kantin Teteh bukan hanya tempat berjualan, tapi juga ruang untuk saling berbagi cerita. Teteh selalu berusaha untuk membuat suasana kantinnya nyaman bagi semua orang. Ia selalu tersenyum, bahkan di saat kantin ramai dan sibuk. Siswa-siswa pun kerap memanggilnya untuk sekadar bercanda atau meminta nasihat sederhana.
Teteh juga mengungkapkan bahwa meski terkadang lelah, ia tetap merasa semangat karena interaksi dengan siswa-siswa dan guru di MAN 1 Pringsewu menjadi motivasi tersendiri baginya. Setiap hari adalah hari baru, dengan cerita baru yang selalu menarik untuk diikuti.
"Saya senang melihat mereka tumbuh, lulus, dan meraih cita-cita. Rasanya seperti melihat anak sendiri," tambahnya dengan mata berbinar.
"Semoga saya masih bisa terus berjualan di sini dan bertemu dengan lebih banyak generasi siswa MAN 1 Pringsewu yang hebat-hebat."
Di tengah kehidupan sekolah yang sibuk, kantin Teteh adalah tempat di mana siswa-siswa bisa sejenak melupakan kesibukan akademik dan menikmati suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.
Keberadaan Teteh di MAN 1 Pringsewu adalah bukti bahwa sekolah bukan hanya tempat untuk belajar dari buku, tetapi juga dari orang-orang yang ada di sekitarnya. Melalui interaksi sederhana di kantin, siswa-siswa belajar tentang kerja keras, kesabaran, dan rasa syukur.
Dengan penuh harapan, Teteh mengungkapkan bahwa ia siap melanjutkan perjalanannya di kantin MAN 1 Pringsewu. "Selama Allah masih memberikan saya kesehatan, insya Allah saya akan terus di sini. Terus menemani kalian semua dengan makanan-makanan yang saya buat dengan cinta," tutup wanita yang juga alumni MAN 1 Pringsewu ini.
Dan bagi siswa-siswa MAN 1 Pringsewu, selama masih ada Teteh di kantin, mereka tahu bahwa ada tempat di sekolah yang selalu menyambut mereka dengan senyum dan kehangatan. (Rike dan Nanda)
