Way Kanan, Kemenag (Humas) - - Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan ikuti kegiatan PERANESIA (Pesantren Ramah Anak untuk Indonesia) dalam rangka menyambut Hari Anak Nasional 2024 secara virtual melalui platform Zoom Meeting di Kantor pada hari Kamis (18/7/2024).
Acara yang diselenggarakan oleh DWP Kemenag RI tersebut dilakukan secara Luring dan daring dan dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Penasehat DWP RI, Plt. Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis), Plt. Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, Ketua DWP RI, serta Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang hadir secara langsung.
Plt. Dirjen Pendis Abu Rokhmad dalam laporannya menekankan pentingnya menjaga dan melindungi setiap anak dari segala bentuk tindakan yang dapat mempengaruhi psikologi mereka. "Setiap anak memiliki keistimewaan masing-masing yang harus dijaga. Perundungan atau bully tidak hanya melukai secara emosional, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai agama," ungkapnya.
Selanjutnya, Eny Retno Yaqut sebagai Penasehat DWP Kemenag RI turut memberikan wawasan mengenai kunci untuk menolak perundungan dan pentingnya menciptakan lingkungan pesantren yang ramah. Ia menegaskan nilai penting pesantren sebagai lembaga pendidikan yang telah terbukti memberikan moral dan nilai-nilai baik sejak zaman dahulu.
Dalam konteks pencegahan kekerasan terhadap anak di lingkungan pendidikan, pesantren dianggap memiliki peran strategis. "Keterlibatan nilai-nilai agama dalam melindungi anak-anak akan memberikan dampak signifikan bagi kepentingan terbaik anak-anak di Indonesia," tambahnya.
Regulasi Kementerian Agama seperti PMA No. 73 Tahun 2022 tentang pencegahan kekerasan seksual di satuan pendidikan, serta berbagai kebijakan dan petunjuk teknis terbaru, menjadi landasan untuk mewujudkan pesantren yang ramah anak.
Acara ini juga dihadiri oleh Dr. Elvine Gunawan, seorang spesialis kedokteran jiwa, yang memberikan perspektif medis tentang dampak serius dari perundungan. "Dampak bully sangat serius dan dapat berdampak jangka panjang terhadap korban," katanya.
Meliani, perwakilan DWP Kemenag Way Kanan, menyambut antusias kegiatan ini sebagai kesempatan untuk lebih memahami dampak buruk dari perundungan. "Saya berharap dengan kegiatan ini, kita semua dapat lebih aktif dalam melindungi anak-anak dari ancaman perundungan," ujarnya.
Dengan demikian, kegiatan PERANESIA ini tidak hanya menjadi upaya untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pesantren yang ramah anak, tetapi juga sebagai komitmen bersama dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih baik melalui perlindungan dan pendidikan yang inklusif bagi semua anak. (Fit/Hand)
Editor : Fadilah
