Lampung (Humas) --- Dalam rangka meningkatkan efektivitas penyuluhan agama Katolik di tengah pesatnya perkembangan teknologi, Bimbingan Masyarakat (Pembimas) Katolik Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung menggelar Pembinaan penyuluh agama Katolik Tingkat Provinsi Lampung, Rabu (09/10) di Hotel Arinas Bandar Lampung.
Dengan tema “Inovasi Penyuluh Agama Katolik dalam Membangun Generasi Emas,” kegiatan ini bertujuan mendorong para penyuluh untuk memanfaatkan teknologi digital dalam menyampaikan nilai-nilai agama kepada generasi muda.
Dalam sambutannya, Pembimas Katolik, Edi Sulistiyono, mengatakan bahwa Penyuluh Agama merupakan salah satu unsur penting dalam upaya peningkatan pemahaman dan pengamalan ajaran agama kepada masyarakat termasuk menjelaskan tentang pembangunan bangsa melalui bahasa agama.
“Penyuluh Agama Katolik adalah agen cinta tanah air, toleransi, dan moderasi beragama. Tugas Bapak dan Ibu semua tidak hanya bertugas membina iman umat, tetapi juga berperan sebagai agen transformasi sosial yang membawa nilai-nilai kasih, keadilan, dan perdamaian dalam kehidupan bermasyarakat," ujarnya.
Mengingat beratnya tugas yang diemban oleh seorang penyuluh agama ini, kata Edi, penting kiranya memiliki kompetensi sebagai penyuluh agama, memiliki kapasitas yang mempuni untuk dijadikan panutan, teladan, motivator yang membawa kemajuan dalam kehidupan beragama, berbangsa, dan bernegara. Seorang penyuluh agama harus dapat memahami materi penyuluhan, menguasai betul metode dan teknik bimbingan penyuluhan sehingga diharapkan seorang penyuluh agama dapat mengubah masyarakat sasaran kea rah kehidupan yang lebih baik, sejahtera lahir, maupun batin.
"Penyuluh agama memiliki tanggung jawab besar dalam menyebarkan ajaran kasih, perdamaian, dan persaudaraan. Di tengah tantangan kehidupan sosial yang semakin kompleks, penyuluh agama diharapkan menjadi ujung tombak dalam menjaga keharmonisan antarumat beragama di masyarakat," tambahnya.
Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, Edi juga menyoroti pentingnya kemampuan penyuluh dalam menangani konflik bernuansa keagamaan. “Seorang penyuluh agama harus bisa memetakan masalah umat dan merespons konflik, baik internal maupun antarumat beragama, yang bisa memicu ketegangan di berbagai daerah,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Veronika Yunita Setianingsih, dalam laporannya menyampaikan kegiatan ini bertujuan agar Penyuluh Agama memahami pentingnya membangun persaudaraan, persahabatan social tanpa batas sebagaimana diajarkan Paus Fransiskus dalam fratelli tutti, meningkatkan kemampuan para Penyuluh Agama Katolik dalam menggunakan metode penyuuhan yang efektif, diharapkan mampu menjadi penguat dan teladan kepada kelompok binaan dan masyarakat dalam perilaku hidup beragama, berbangsa, dan bernegara serta mampu menjadi motivasi dan inspirasi untuk membangun generasi muda di era digital.
“Kegiatan ini diselenggarakan selama tiga hari yang dimulai hari Rabu hingga Jum’at tanggal 09 hingga 11 Oktober 2024 dengan diikuti 49 Penyuluh Agama Se-Provinsi Lampung yang terdiri dari 3 ASN dan 46 Non ASN,” terangnya.
Ia menjelaskan Pembinaan ini akan diberikan materi oleh narasumber yang berkompeten yang terdiri 2 orang internal Kementerian Agama yaitu Pembimas Katolik dan Operator SIP2Kat Provinsi Lampung. Selain itu juga, akan diberikan materi oleh Pemimpin Tertinggi Umat Katolik di Lampung yaitu Uskup Tanjung Karang, Direktur Diosesan Karya Kepausan Indonesia Keuskupan Tanjung Karang, dan Anggota Tim Karya Kepausan Indonesia Keuskupan Tanjung Karang.(Anggithya)
