Search

Erwinto: Dakwah Harus Menyatu dengan Budaya, Bukan Bertentangan Dengannya

erwinto-dakwah-harus-menyatu-dengan-budaya-bukan-bertentangan-dengannya
Fotografer: Humas Kanwil

Lampung (Humas) --- Budaya dan agama tidak semestinya berjalan sendiri-sendiri. Di Provinsi Lampung, nilai-nilai adat justru telah lama menjadi sarana menyampaikan ajaran agama secara damai dan beradab. Kearifan lokal inilah yang kini kembali disorot sebagai bagian penting dari penguatan moderasi beragama.

Hal tersebut ditegaskan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kemenag) Provinsi Lampung, Erwinto, dalam kegiatan Dialog Ormas Islam dan Moderasi Beragama Berbasis Kearifan Lokal, yang digelar Sabtu (31/5), di Hotel Kyard, Bandar Lampung.

Menurut Erwinto, banyak pesan keagamaan sejatinya sudah lama terinternalisasi dalam budaya masyarakat Lampung melalui fiil pesenggiri, sebuah falsafah hidup yang mencerminkan prinsip keterbukaan, kesetaraan, dan kebersamaan.

“Dalam fiil pesenggiri, kita mengenal konsep seperti nemui nyimah yang berarti menjamu tamu dengan penuh keikhlasan, nengah nyampur yang mencerminkan keterlibatan aktif dalam masyarakat, juluk adek yang meneguhkan identitas dan kehormatan, serta sakai sebayan yang menekankan pentingnya gotong royong. Semua ini adalah bentuk nyata dari moderasi,” tutur Erwinto.

Ia menambahkan, nilai-nilai tersebut diperkuat oleh norma adat yang disebut adat cempala, yang terdiri dari silip walu, cempala tua belas, dan ila-ila empat perkara, seperangkat aturan sosial yang menjunjung etika, keseimbangan, dan musyawarah.

Erwinto menilai bahwa tantangan dakwah Islam saat ini terletak pada ketidaksinkronan antara pendekatan agama dan konteks sosial masyarakat. Untuk itu, ia mengajak organisasi kemasyarakatan Islam agar lebih terbuka terhadap kearifan lokal sebagai sarana menghidupkan kembali semangat dakwah para ulama terdahulu.

“Para ulama dulu menyampaikan ajaran Islam dengan cara yang lembut, menyatu dengan adat, dan membimbing masyarakat tanpa memutus jalinan sosial yang sudah ada. Kini, tugas kita adalah menyambung kembali dakwah yang terputus itu,” ujarnya.

Lebih dari itu, Erwinto menekankan pentingnya menjadikan ormas Islam sebagai agen penguatan harmoni, bukan pemecah. Menurutnya, nilai-nilai lokal yang selama ini menjadi penopang harmoni sosial di Lampung, bisa menjadi kekuatan besar jika diolah menjadi pendekatan dakwah yang membumi.

“Saya mengajak seluruh ormas Islam yang hadir untuk menjadikan budaya lokal sebagai medium dakwah. Karena dakwah yang paling efektif adalah yang sesuai dengan nilai-nilai masyarakat setempat, bukan yang memaksakan bentuk dari luar,” tegasnya.

Di akhir sambutannya, Erwinto menyampaikan harapan agar kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang diskusi, tetapi menjadi titik awal perubahan pendekatan dakwah ke arah yang lebih inklusif dan berakar kuat pada budaya.

“Semoga dari sini lahir gerakan dakwah yang tidak hanya kuat dalam akidah, tetapi juga bijak dalam pendekatan. Kita perlu dakwah yang meneduhkan, bukan menegangkan. Yang menyatukan, bukan memecah,” tuturnya.

Ia juga menekankan bahwa menjaga kerukunan di tengah masyarakat plural seperti Lampung adalah tanggung jawab bersama. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan keterlibatan aktif dari ormas, tokoh agama, dan tokoh adat dalam menjaga keseimbangan ini,” pungkas Erwinto.(Anggithya/Abdul Aziz)


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil