Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Daerah

Imam Mahali, Tausiah Ramadan: Meraih Ampunan dan Taqwa di Bulan Maghfirah

Selasa, 11 Maret 2025 Humas Bandar Lampung
Imam Mahali, Tausiah Ramadan: Meraih Ampunan dan Taqwa di Bulan Maghfirah
Humas Bandar Lampung
Humas Bandar Lampung

Bandar Lampung, Kemenag (Humas) ---  Hari ini, bertepatan dengan hari ke-11 puasa Ramadan 1446 Hijriah, Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Bandar Lampung mengadakan tausiah kultum ba’da sholat Dzuhur. dengan tema yang menggugah semangat keimanan,  memperkaya ruhaniyah pegawai di tengah kesibukan menjalankan ibadah puasa. Tausiah kali ini disampaikan oleh Ustadz Imam Mahali, Pelaksana Kasi Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (PAKI).  Selasa, (11/03/2025)

Ustadz Imam Mahali, membuka tausiahnya dengan menekankan keistimewaan Ramadan sebagai bulan maghfirah, waktu penuh ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Mengutip sabda Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wasallam, beliau menyampaikan, “Barang siapa berpuasa di bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan harapan ridha Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Ia menjelaskan bahwa pengampunan ini mencakup dosa-dosa masa lalu, seperti setahun sebelumnya, asalkan ibadah dilakukan dengan tulus. 

Beliau melanjutkan, ada pula amalan lain yang dapat menghapus dosa, seperti qiyam Ramadan. Dalam hadis lain, Rasulullah bersabda, “Barang siapa melaksanakan salat pada malam Ramadan dengan iman dan harapan pahala, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” Dengan nada santai namun penuh makna, Ustadz Imam menegaskan bahwa “berdiri” dalam konteks ini merujuk pada menegakkan ibadah, seperti salat Tarawih dan tadarus Al-Qur’an, bukan sekadar posisi fisik. “Kalau kita tidak aktif beribadah, tentu ampunan itu sulit diraih,” ujarnya sambil tersenyum, disambut anggukan jamaah. 


Lebih jauh, Ustadz Imam menggarisbawahi keutamaan Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Surah Al-Qadr lebih baik dari seribu bulan, atau sekitar 83-90 tahun. “Bayangkan, amalan wajib dilipatgandakan pahalanya, sementara yang sunnah setara dengan ibadah wajib di bulan lain. Ini kesempatan luar biasa,” katanya. Ia mengibaratkan Ramadan sebagai latihan intensif menuju taqwa, layaknya atlet yang berlatih lebih berat demi kemenangan. “Di bulan biasa, kita bebas menikmati yang halal seperti makan siang. Namun di Ramadan, itu dilarang sementara. Ini melatih kita agar di masa depan mampu menahan diri dari milik orang lain tanpa izin,” tuturnya. 

Menutup tausiah, Ustadz Imam menyampaikan intisari pesannya, “Jika di Ramadan kita bisa menahan hak pribadi yang halal, maka di bulan lain, godaan yang haram tentu lebih mudah kita hindari. Itulah kunci taqwa.”  Menguatkan harapan, dengan Ramadan menjadi momentum perbaikan diri menuju masyarakat Islami yang harmonis. (Mushollin)


Editor : Fadilah