Pringsewu, Keluarga besar MAN 1 Pringsewu turut memperingati Hari Amal Bhakti (HAB) ke-79 Kementerian Agama yang akan jatuh pada 3 Januari 2025 mendatang. Tema HAB kali ini adalah "Umat Rukun Menuju Indonesia Maju." Peringatan ini menjadi momentum refleksi dan penyampaian harapan untuk masa depan yang lebih baik di Indonesia.
Kepala MAN 1 Pringsewu, Fathul Bari, menekankan pentingnya menjaga kerukunan sebagai pondasi kemajuan bangsa. Menurutnya, melalui tema Umat Rukun Menuju Indonesia Maju, diharapkan seluruh elemen madrasah dapat semakin memperkuat kebersamaan, baik dalam lingkup internal maupun masyarakat.
"Kerukunan ini adalah kunci mewujudkan madrasah yang berprestasi, berkarakter, dan berkontribusi pada pembangunan bangsa,” ujarnya pada pembukaan rangkaian acara HAB untuk tingkat Kabupaten Pringsewu di Kantor Kemenag Pringsewu, Jumat (6/12/2024).
Senada dengan itu, Guru MAN 1 Pringsewu Eli Dwi Septina menyampaikan bahwa HAB ke-79 menjadi momen untuk mempererat kolaborasi dalam menciptakan lingkungan yang harmonis.
“Kami ingin siswa MAN 1 Pringsewu tidak hanya unggul dalam prestasi akademik tetapi juga menjadi agen perdamaian yang menebarkan kasih sayang, sesuai dengan semangat tema tahun ini. Harapannya, mereka bisa menjadi generasi yang berkontribusi nyata untuk kemajuan Indonesia,” katanya.
Terkait dengan kerukunan, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Pringsewu, H. Mahfud Ali, menambahkan pandangannya mengenai makna dan pentingnya kerukunan dalam membangun Indonesia maju.
“Kerukunan bukan hanya tanggung jawab individu, tetapi merupakan tugas kolektif semua lapisan masyarakat. Dengan umat yang rukun, konflik bisa dihindari, sehingga energi bangsa dapat difokuskan pada pembangunan. Kerukunan ini harus dimulai dari keluarga, sekolah, hingga masyarakat luas,” ungkapnya.
Ia berharap gemerasi muda untuk sedari awal diajarkan untuk menghargai perbedaan dan menjunjung tinggi nilai toleransi. “Madrasah seperti MAN 1 Pringsewu memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijak dalam mengelola keberagaman,” tambahnya.
Muhammad Faizin