Way Kanan, Kemenag (Humas) -- Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Way Kanan Masir Ibrahim, M.Pd memberikan Orasi Ilmiah dalam rangkaian Yudisium Angkatan IV STIT Al-Hikmah Way Kanan Kamis (02/05/2024). Yudisium dengan mengsung Tema “Terwujudnya Sarjana yang Moderat, Adaptif, Bermutu dan Berkarakter“ Kakankemenag didapuk memberikan Orasi Ilmiah untuk menyampaikan “Tantangan menjadi Guru yang Moderat, Adaptif, Bermutu, dan Berkarakter di Era Digitalisasi.
”Masir Ibrahim mengucapkan terima kasih kepada segenap Civitas Akademika STIT Al-Hikmah atas kesempatan yang diberikan ini, karena dirinya baru saja bertugas sebagai Kakankemenag Way Kanan. Saya tidak ingin menggurui dan merasa paling pintar hanya saja berbagi ilmu pengetahuan saja ucapnya.
Menghadapi Era Digitalisasi, saya menekankan pentingnya mengubah pola pikir atau mindset sebagai prasyarat utama agar masyarakat Indonesia bisa beradaptasi menghadapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi ke depan.“Kita sudah memasuki momentum yang dinamikanya luar biasa akibat perkembangan teknologi berbasis digital.
Tidak bisa dihindarkan, yang kita butuhkan saat ini adalah talenta-talenta, sumber daya manusia, yang bisa menyiapkan diri kita untuk menyongsong perkembangan teknologi ini untuk kepentingan bangsa.
Pada kesempatan tersebut Masir Ibrahim memberikan motivasi kepada para mahasiswa agar mampu menerapkan ilmu yang diperoleh, memberikan kontribusi kepada masyarakat dan tidak berhenti dalam menuntut ilmu pengetahuan dalam meningkatkan kapasitas dan keterampilannya. “Mahasiswa tidak hanya dibekali dengan pengetahuan keahlian inti, melainkan juga dibekali dengan pengetahuan keagamaan, budi pekerti, kepribadian, dan etika serta nilai-nilai moderasi beragama serta Pendidikan karakter.”Jelas Masir.
Menurutnya, jika seseorang yang tidak memiliki budi pekerti yang baik berarti dapat dikatakan sebagai orang yang memiliki perilaku yang tidak baik. Artinya walaupun kita pintar apabila tidak memiliki etika / adab maka semuanya akan sia-sia, jadi dahulukan adab daripada ilmu pintanya.
STIT Al-Hikmah, yang menghasilkan lulusan, mempunyai peluang besar membangun karakter bangsa. STIT Al-Hikmah berhasil mencetak lulusan yang profesional dan berkarakter, maka kita akan mampu mengubah masa depan bangsa Indonesia kearah yang lebih baik. Saya berpesan agar para mahasiswa mampu menghormati Orang Tua dan menghormati Guru agar mendapat keberkahan di Dunia dan Akherat.
Saya bisa sampai titik saperti ini tidak lepas dari peran orang tua dan guru, jadi jangan sekali-kali kita durhaka dan sombong, karena Ridho Allah SWT adalah Ridho Orang Tua ungkapnya.
Mengakhiri Orasinya masir Ibrahim mengingatkan bahwa pada hari ini kita memperingati Hari Pendidikan Nasional saya juga ingin menyampaikan pesan dari Ki Hajar Dewantara. Ki Hajar Dewantara merupakan sosok yang memperjuangkan bidang pendidikan bangsa Indonesia. Bahkan atas jasanya, beliau diberikan julukan sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Ki Hajar yang terkenal dengan semboyannya yaitu Ing Ngarsa Sung Tuladha (sang pendidik harus memberi teladan atau tindakan yang baik) Ing Madya Mangun Karsa (di tengah atau di antara murid guru harus menciptakan prakarsa dan ide) Tut Wuri Handayani (seorang guru harus memberikan dorongan dan arahan). (hand)
Editor : Fadilah
