Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Provinsi

Kakanwil: Kurikulum Berbasis Cinta Bangun Karakter dan Akhlak Peserta Didik

Senin, 05 Januari 2026 Anggithya
Kakanwil: Kurikulum Berbasis Cinta Bangun Karakter dan Akhlak Peserta Didik
Anggithya
Anggithya

Lampung (Humas) --- Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Lampung, Zullkarnain, menyatakan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) merupakan pendekatan penting dalam membangun karakter, akhlak, serta kepribadian peserta didik madrasah secara utuh.

Hal tersebut disampaikan Zullkarnain saat membuka sekaligus memberikan materi pada Pelatihan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) di lingkungan MAN 1 Bandar Lampung, Senin (5/1), yang digelar di Gedung Serba Guna (GSG) MAN setempat.

“Pendidikan tidak cukup hanya mengejar kecerdasan intelektual. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana membentuk akhlak, empati, dan karakter anak-anak kita. Di situlah Kurikulum Berbasis Cinta menemukan relevansinya,” ujar Zullkarnain.

Menurut Zullkarnain, kurikulum pada hakikatnya adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, metode, serta evaluasi pembelajaran yang menjadi pedoman dalam penyelenggaraan pendidikan. Tanpa kurikulum yang tepat, kualitas pendidikan akan berjalan tidak merata.

Ia menjelaskan, Kurikulum Berbasis Cinta sejalan dengan semangat Kurikulum Merdeka yang memberi ruang kebebasan kepada peserta didik untuk aktif, kreatif, dan mengembangkan minat serta bakatnya masing-masing. Setiap anak, kata dia, memiliki keistimewaan yang tidak bisa diukur hanya dari satu aspek akademik.

“Bisa jadi ada siswa yang kurang unggul dalam satu bidang, tetapi memiliki kelebihan dalam bidang lain, termasuk akhlak dan kepedulian sosial. Semua anak itu istimewa,” katanya.

Zullkarnain menambahkan, pendidikan berbasis cinta mendorong guru untuk tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai pendidik yang menanamkan nilai-nilai kemanusiaan. Pembelajaran harus berlangsung secara bermakna, sadar, dan menyenangkan, sehingga peserta didik merasa aman dan dihargai.

“Guru mendidik dengan hati. Ketika cinta menjadi dasar pendidikan, maka akan lahir generasi yang inklusif, mampu menghargai perbedaan, dan hidup harmonis di tengah masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala MAN 1 Bandar Lampung, Lukman Hakim, dalam laporannya menyampaikan bahwa pelatihan tersebut mengusung tema “Kurikulum Berbasis Cinta: Menyatukan Frekuensi, Menyatukan Kesadaran tentang Menanamkan Kasih Sayang dan Empati dalam Pembelajaran.” Tema ini, menurutnya, menekankan pentingnya keselarasan visi para pendidik dalam mendidik peserta didik.

“Makna kita memakai batik yang berbeda hari ini adalah simbol bahwa frekuensi kita mungkin belum sama. Melalui workshop ini, kita kembali ke madrasah untuk menyamakan frekuensi dan visi dalam mendidik anak-anak,” ujar Lukman Hakim.

Ia menjelaskan, pelatihan yang berlangsung selama dua hari tersebut mendapat dukungan penuh dari Komite Madrasah sebagai bentuk sinergi antara orang tua siswa dan pihak sekolah. Peserta kegiatan meliputi 120 guru internal MAN 1 Bandar Lampung, serta anggota Kelompok Kerja Madrasah (KKM), dengan masing-masing madrasah mengirimkan satu orang Wakil Kepala Bidang Kurikulum guna menyamakan langkah dalam pengembangan pendidikan.

Dalam kesempatan itu, Lukman Hakim juga mengapresiasi kinerja para guru yang telah berhasil menghantarkan lebih dari 90 persen lulusan MAN 1 Bandar Lampung diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di berbagai wilayah Indonesia. Capaian tersebut diharapkan terus meningkat melalui penyegaran metode pembelajaran berbasis nilai-nilai cinta dan empati.

“Pelatihan ini menghadirkan narasumber dari Loka Diklat Keagamaan Bandar Lampung, di antaranya Veru, Sri, Mustika, dan Yeni, serta melibatkan alumni dan praktisi pendidikan yang mendampingi peserta selama kegiatan berlangsung,” bebernya.

Selama pelaksanaan workshop, peserta didik MAN 1 Bandar Lampung sementara melaksanakan pembelajaran dari rumah, guna memberikan ruang bagi para guru untuk fokus melakukan refleksi serta peningkatan kapasitas diri dalam menerapkan Kurikulum Berbasis Cinta.(Anggithya/Baihaqi)