Way Kanan, Gunung Labuhan - - Kisah inspiratif datang dari Way Kanan, sebuah gambaran keteguhan iman yang tak lekang dimakan usia. Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, Nenek Sholehah (78), seorang warga Dusun Suka Pindah Kampung Negeri Ujan Mas, Kecamatan Gunung Labuhan, menjadi mercusuar semangat bagi seluruh jamaah Majelis Taklim Al-Ikhlas.
Setiap hari Jum'at, saat matahari mulai condong
ke barat, langkah ringkih Nenek Sholehah menjadi saksi bisu dari tekad baja.
Dengan jalan membungkuk kadang digandeng jamaah lainnya, ia menempuh perjalanan
menuju Majelis Taklim, seolah tak mengindahkan beban usia yang telah mencapai
hampir delapan dekade.
"Mengaji itu bukan soal kuat atau tidaknya
badan, Nak. Tapi soal hati. Selagi nafas masih ada, lakukan, Mudah-mudahan
dengan mengaji ini menjadi wasilah kita di akhirat kelak ," ujar Nenek
Sholehah dengan suara parau namun penuh ketenangan, saat ditemui di sela-sela
kegiatan.
Nenek Sholehah tidak hanya berjuang melawan
faktor usia. Keterbatasan penglihatan dan pendengaran seringkali menjadi
tantangan. Namun, semangatnya yang berapi-api mampu meluluhkan hambatan
tersebut.
Di antara para jamaah majelis taklim yang
berusia jauh lebih muda, Nenek Sholehah duduk dengan khusyuk. Ia mendekatkan
Mushaf Al-Qur'an ke wajahnya, membaca huruf demi huruf surat Yasiin dengan
sabar. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap, melainkan sumber motivasi yang
menghangatkan suasana Majelis Taklim Al-Ikhlas.
Penyuluh Agama Islam Kecamatan Gunung Labuhan
yang saat itu hadir bersama kedua rekannya, Sigit Wibowo, Oksi Ajuan F dan Sariyanto
menyatakan kekaguman mendalam atas konsistensi Nenek Sholehah.
"Nenek Sholehah adalah contoh nyata bahwa
belajar agama itu tidak ada kata terlambat. Ketika anak-anak muda mungkin
merasa malas, beliau yang sudah sepuh justru masih mengaji. Semangat beliau
adalah 'tamparan' lembut bagi kita semua," ungkap Sigit Wibowo.
Kisah Nenek Sholehah, tambah Sigit lagi.
Pengingat bagi kita semua, bahwa cinta kepada ilmu agama dan Al-Qur'an adalah
warisan abadi yang harus dijaga.
(Yanto/Oksi/Asep)
Editor: Fadilah
