Search

Pak Risyanto dan Senyum di Balik Debu MAN 1 Pringsewu

pak-risyanto-dan-senyum-di-balik-debu-man-1-pringsewu
Fotografer: Humas Kanwil

Di sudut-sudut sekolah yang sepi saat pagi malu-malu menggantikan gelap, sebelum derap langkah siswa mulai memadati gerbang sekolah, terdengar bunyi sapu yang menyisir lantai. Suara itu datang dari sosok ramah yang setiap hari tak lepas dari perlatan kebersihan.

Adalah Pak Risyanto, lelaki hebat  yang sudah 4 tahun mengabdikan diri sebagai tukang kebersihan di MAN 1Pringsewu. Ia tak pernah menuntut perhatian, apalagi penghargaan. Baginya, menjaga sekolah tetap bersih adalah bentuk dedikasi yang tulus.

Tahun 2020 menjadi saksi awal bagi Pak Risyanto menjadi tukang kebersihan di MAN 1 Pringsewu,Pak risyanto sendiri ber alamat di Fajar Agung Barat.

Waktu menunjukkan pukul 6 pagi  waktunya pak Risyanto pergi bekerja membersihkan lingkungan sekolah MAN 1 Pringsewu.

Dengan sapu, pengki, dan alat pel di tangan, Pak Risyanto menyusuri setiap sudut sekolah. Halaman yang luas, serta taman yang harus dijaga kerapiannya menjadi bagian dari rutinitasnya setiap hari.

“Bagaimana kebersihan sekolah dapat mempengaruhi semangat belajar siswa pak?” tanya salah satu anggota Laskar Tinta Emas yang sedang bertugas sambil mencatat informasi yang di dapatkan untuk di jadikan sebuah berita.

“Kebersihan itu penting untuk kenyamanan siswa belajar. Saya senang kalau sekolah terlihat rapi, karena itu bisa membuat siswa lebih semangat,” ujarnya sambil menyeka keringat yang ada di dahi.

Tidak hanya bertugas membersihkan sekolah, Pak Risyanto juga sering memberikan nasihat kepada siswa untuk lebih menjaga kebersihan lingkungan. 

“Kadang saya ingatkan mereka untuk tidak buang sampah sembarangan. Kalau sekolah bersih, kan, belajar jadi lebih nyaman,” tambahnya sambil memegang sapu dan serok yang penuh dengan sampah.

Nasihatnya bukan sekadar omongan kosong. Banyak siswa yang menghargai usaha Pak Risyanto dan mulai lebih peduli terhadap kebersihan lingkungan sekolah.

Namun, tidak jarang juga Pak Risyanto harus menghadapi tantangan. Beberapa siswa masih sering kali membuang sampah sembarangan, dan terkadang ia harus membersihkan sisa-sisa kegiatan ekstrakurikuler yang berakhir larut malam. Meskipun begitu, ia tidak pernah mengeluh.

Selama bertahun-tahun, Pak Risyanto telah menjadi sosok penting di MAN 1 Pringsewu. Dedikasinya yang tanpa pamrih terhadap kebersihan sekolah membuatnya dihormati oleh banyak siswa dan guru. Ia juga selalu berusaha mengedukasi siswa tentang pentingnya menjaga kebersihan. 

“Saya berharap siswa-siswa ini bisa lebih sadar akan kebersihan. Jika mereka menjaga kebersihan, itu juga berarti membantu pekerjaan saya,” ujarnya sambil senyum lebar dan sambil memegang sapu 

Pak Risyanto bukan hanya sekadar tukang kebersihan; ia adalah pahlawan tanpa tanda jasa di lingkungan sekolah MAN 1 Pringsewu. Perannya yang terlihat sepele sebenarnya sangat vital dalam menjaga kenyamanan seluruh warga sekolah. 

Tanpa kehadiran Pak Risyanto mungkin suasana sekolah tidak akan sebersih dan seasri seperti sekarang. Setiap sapu yang ia ayunkan, setiap sampah yang ia pungut, adalah kontribusi nyata untuk menciptakan tempat belajar yang lebih baik.

Bagi kebanyakan orang, pekerjaan Pak Risyanto mungkin terlihat sederhana, bahkan sepele. Namun, bagi Pak Risyanto, ini adalah bentuk pengabdian yang ia jalani dengan penuh rasa syukur dan ikhlas.

Pak Risyanto mungkin bukan orang yang tampil di depan kelas, memberikan pelajaran atau menorehkan prestasi akademis. Tapi dari balik sapu dan serbetnya, dia telah mengajarkan satu hal penting: bahwa ketulusan dan pengabdian tak membutuhkan panggung besar. Kadang, itu tersembunyi di balik peran yang sederhana, namun penuh makna.

Kisah Pak Risyanto adalah refleksi tentang bagaimana kerja keras dan ketulusan seringkali tersembunyi di balik hal-hal yang dianggap biasa. Di tengah hiruk-pikuk sekolah, sapuan sapunya mungkin tak terdengar, tapi dampaknya terasa di setiap sudut ruang belajar yang bersih.

Senyumnya selalu mekar dibingkai keikhlasan menyapu debu MAN 1 Pringsewu. (M. Kaisar dan M Hanif)


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil