Lampung Barat, Kemenag (Humas) -- Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Lampung Barat H. Miftahus Surur, S.Ag.,M.Si menghadiri Pembukaan kegiatan Pendidikan Menengah Kepemimpinan Nahdlatul Ulama (PMKNU) Angkatan I PCNU Lampung Barat di Ponpes Roudhotus Sholihin Kecamatan Air Hitam, Kamis(2/7/2026).
Dalam kegiatan sakral tersebut, turut juga dihadiri Bupati Lampung Barat Parosil Mabsus, Ketua PBNU Dr. KH. Miftah Faqih, MA, M.Hum, jajaran Forkompimda, pimpinan Badan Otonom dan Lembaga pada PCNU setempat.
Sekadar diketahui, kegiatan ini merupakan yang pertama kali dilaksanakan oleh PCNU Lampung Barat dan diikuti oleh 66 orang peserta dari berbagai Provinsi se Indonesia.
Mengawali sambutan, Bupati Parosil Mabsus menyampaikan rasa syukur karena Lampung Barat dipercaya menjadi tuan rumah pelaksanaan PMKNU.
Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan momentum penting untuk mencetak kader-kader pemimpin yang memiliki wawasan kebangsaan dan siap mengabdi kepada masyarakat.
"Alhamdulillah, hari ini PMKNU untuk pertama kalinya dilaksanakan di Kabupaten Lampung Barat. Di Provinsi Lampung sendiri baru tujuh kali dilaksanakan, dan yang ketujuh ini berlangsung di Lampung Barat," ujar Parosil.
Di tempat yang sama, Kepala Kankemenag Lambar Miftahus Surur menjelaskan, PMKNU merupakan jenjang pendidikan kepemimpinan yang mempersiapkan kader Nahdlatul Ulama untuk menjadi pemimpin organisasi maupun pemimpin di tengah masyarakat.
Ia menilai, kader yang telah mengikuti PMKNU akan memiliki pemahaman yang kuat tentang nilai-nilai kebangsaan, sekaligus mampu menjaga persatuan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
"NU adalah organisasi besar yang selama ini konsisten menjaga keutuhan NKRI. Ketika muncul berbagai paham radikal, NU selalu berada di garda terdepan memberikan pemahaman kepada masyarakat demi menjaga persatuan bangsa," kata Miftahus Surur.
Ia juga menuturkan bahwa PMKNU merupakan kaderisasi dengan tingkat kedisiplinan yang tinggi, para peserta diwajibkan mengikuti seluruh aturan yang telah disepakati.
“PMKNU adalah ruang untuk mencetak kader pemimpin NU yang kompeten secara intelektual, spiritual dan manajerial, tentu kita berharap calon pemimpin NU mendatang dapat menjalankan amanahnya dengan baik,” harapnya.
Terakhir, Ketua PBNU Miftah Faqih menyampaikan bahwa kaderisasi yang tengah dijalankan merupakan ikhtiar untuk merawat sanad NU baik keilmuan maupun gerakan. Karena menurutnya menjadi kader dan penerus NU tidak cukup hanya dengan pengakuan saja, namun harus dibuktikan dengan loyalitas dan kesetiaan.
"Sanad berfungsi untuk menyambung spirit perjuangan generasi saat ini dengan para pendiri (muassis) terdahulu. Dengan mengetahui silsilah atau sanad organisasi, kader NU terhindar dari perilaku munfasil (terputus) atau mungqoti (terpotong) dari sejarah dan nilai-nilai luhur pendirinya," ungkapnya.
Memahami sanad membantu gerakan organisasi tetap berada dijalurnya. Jika terjadi improvisasi dalam langkah organisasi, pemahaman terhadap spirit leluhur akan menjadi pengingat agar tidak memyimpang dari tujuan awal organisasi.
Mari refleksikan diri untuk menjaga kemaslahatan di era perkembangan zaman. Ia menyoroti bahwa kita hidup dimana banyak kata-kata dan informasi kehilangan subtansi, hanya menjadi keriuhan tanpa makna yang mendalam.
"Daripada mengutuk kegelapan, setiap individu harus menyalakan 'Lentera' sendiri. Satu lentera kecil dapat menuntun langkah di tengah gulita, dan jika jutaan lentera menyala, maka akan tercipta gelombang pencerahan," ajaknya.