Jl. Cut Mutia No.27, Gulak Galik, Kec. Tlk. Betung Utara kanwillampung@kemenag.go.id

Cari berita, artikel, informasi, atau layanan

Provinsi

Perkuat Kerukunan dan Dialog Antarumat Beragama, Sekjen Kemenag: “Tidak Ada Keputusan Baik yang Lahir dari Ruang Tertutup”

Rabu, 06 Agustus 2025 Humas Kanwil
Perkuat Kerukunan dan Dialog Antarumat Beragama, Sekjen Kemenag: “Tidak Ada Keputusan Baik yang Lahir dari Ruang Tertutup”
Humas Kanwil
Humas Kanwil

Gading Serpong, (Humas Kemenag lampung)---Silaturahmi Nasional Forum Kerukunan Umat Beragama (Silatnas FKUB) 2025 resmi dibuka dengan pesan mendalam dari Sekretaris Jenderal Kementerian Agama RI, Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, yang menegaskan urgensi membangun komunikasi lintas iman yang terbuka, jujur, dan penuh empati dalam merawat keberagaman Indonesia.

Bertempat di Atria Hotel Gading Serpong, kegiatan ini dihadiri ratusan tokoh lintas agama, pejabat Kementerian/Lembaga, pengurus FKUB seluruh provinsi, dan para pemangku kepentingan dari berbagai daerah. Turut hadir, Ketua FKUB Provinsi Lampung beserta tiga pengurus lainnya sebagai bentuk dukungan atas penguatan kerukunan nasional.

Dalam sambutannya, Prof. Kamaruddin mengajak seluruh pihak untuk tidak hanya berhenti pada seremoni kebersamaan, melainkan turut merefleksikan tantangan nyata kerukunan umat beragama di tengah dinamika sosial-politik nasional.

“Kerukunan bukan warisan, tapi amanah yang harus terus diperjuangkan. Komunikasi lintas agama yang terbuka adalah instrumen paling penting dalam mencegah konflik sosial. Tidak ada keputusan baik yang lahir dari ruang tertutup,” tegasnya penuh makna.

Isu sensitif seperti pembangunan rumah ibadah menjadi sorotan utama, karena sering kali menjadi sumber gesekan sosial. Sekjen menegaskan bahwa pendirian rumah ibadah harus didasarkan pada musyawarah terbuka dan penghormatan terhadap kearifan lokal, bukan sekadar syarat administratif.

Dalam forum ini, Sekjen juga memperkenalkan pendekatan baru Early Warning System (EWS) berbasis kepekaan sosial dan jejaring antariman. FKUB dinilai sebagai simpul penting dalam menyampaikan aspirasi akar rumput dan memperkuat sinergi antara umat dan pemerintah.

“FKUB harus menjadi jembatan kepercayaan. Karena di tengah masyarakat majemuk, deteksi dini terhadap potensi gesekan sosial menjadi semakin penting,” ujarnya.

Tak hanya itu, Sekjen Kemenag juga menyampaikan arahan strategis dari Presiden RI, Bapak Prabowo Subianto, yang menekankan pentingnya rekonsiliasi, keberanian spiritual, dan budaya saling memaafkan sebagai fondasi membangun bangsa yang solid dan damai.

“Kerukunan bukan sekadar toleransi pasif, tapi keberanian untuk memaafkan dan berdamai dengan perbedaan. Itulah kekuatan moral bangsa Indonesia,” ucapnya.

Sebagai langkah konkret, Kementerian Agama kini tengah mengembangkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) untuk ditanamkan sejak dini dalam pendidikan agama. Kurikulum ini menekankan nilai-nilai empati, kasih sayang, dan penghormatan terhadap kemanusiaan dalam setiap ajaran agama.

“Pendidikan keagamaan harus menjadi titik temu, bukan titik benturan. Ia harus menjadi perekat sosial, bukan pemecah belah,” tandasnya.

Menanggapi pesan Sekjen, Pelaksana Tugas Kepala Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Erwinto, yang turut hadir dalam kegiatan ini, menyatakan komitmennya untuk memperkuat peran strategis FKUB di daerah.

 “Apa yang disampaikan Bapak Sekjen sangat relevan dengan kondisi di daerah. Di Lampung, kami terus mendorong agar komunikasi antarumat tidak hanya terjadi saat konflik, tetapi menjadi budaya dalam keseharian. FKUB menjadi garda terdepan dalam merawat ruang dialog dan harmoni,” ujar Erwinto.

Ia menambahkan bahwa ke depan, sinergi antara FKUB, pemerintah daerah, dan lembaga keagamaan akan terus diperkuat sebagai bagian dari strategi pemeliharaan kerukunan berbasis kearifan lokal.

“Mari kita jadikan ruang-ruang perbedaan ini sebagai sumber kekayaan, bukan sumber perpecahan. Karena justru di situlah komitmen kebangsaan kita diuji, "Tegas Erwinto.