Search

Ustadz Imam Mahali: Puasa Menguji Kejujuran dan Keikhlasan Menuju Fitrah

ustadz-imam-mahali-puasa-menguji-kejujuran-dan-keikhlasan-menuju-fitrah
Fotografer: Humas Kanwil

Bandar Lampung,  Kemenag (Humas) ---  Menjelang akhir Ramadan 1446 Hijriah, Ustadz Imam Mahali, Pelaksana Kasi PAKI, menyampaikan tausiyah dalam kultum di Masjid Al Amal KaKemenag Kota Bandar Lampung pada Kamis, 27 Maret 2025. Dalam ceramahnya, ia menekankan bahwa puasa merupakan ibadah yang bersifat rahasia antara hamba dan Allah, menuntut kejujuran serta keikhlasan tingkat tinggi.

Imam Mahali menjelaskan, puasa berbeda dari ibadah lain karena hanya pelaku dan Allah yang tahu apakah seseorang benar-benar menjalankannya. “Di tempat sepi, seseorang bisa saja merokok atau mencicipi makanan tanpa sepengetahuan orang lain. Bahkan saat berwudu, kumur-kumur tiga kali bisa jadi hanya dua kali, tak ada yang memperhatikan,” ujarnya. Kerahasiaan ini, menurutnya, menjadi ujian integritas dan ketakwaan yang hanya Allah nilai, sebagaimana tertulis dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 183, bahwa puasa bertujuan membentuk ketakwaan.


Lebih lanjut, ia mengutip hadis Rasulullah SAW, “Innamal a’malu binniyat”, yang berarti segala perbuatan dinilai dari niatnya. Jika puasa dilakukan karena Allah, pahala akan diberikan. Namun, jika diniatkan untuk selain Allah, amal tersebut akan ditolak. “Allah berfirman kepada hamba yang tidak ikhlas, ‘Mintalah pahala dari yang kamu tuju, bukan dari-Ku’,” tambahnya, menegaskan pentingnya keikhlasan.

Ustadz Imam juga mengingatkan bahwa niat puasa dianjurkan dilakukan malam hari, seperti saat sahur atau setelah tarawih, untuk mengarahkan hati hanya kepada Allah. Ia menyebut dua jenis ibadah: khusus seperti sholat, puasa, dan zakat yang telah diatur syariat, serta umum seperti membantu sesama yang bermanfaat asal tidak melanggar aturan.

Terkait zakat fitrah, ia menjelaskan bahwa ibadah ini mensucikan jiwa dan harta setelah Ramadan. Waktunya bisa dimulai dari awal Ramadan hingga sebelum sholat Idul Fitri, dengan kewajiban berlaku bagi yang hidup sebelum matahari terbenam pada hari terakhir Ramadan. “Zakat fitrah dan puasa membawa kita kembali ke fitrah, suci lahir batin,” katanya.

Imam Mahali menutup tausiyah dengan mengaitkan tradisi “mohon maaf lahir dan batin” saat Idul Fitri. “Dosa kepada Allah dibersihkan dengan ibadah, tapi dosa kepada manusia perlu saling memaafkan, agar kita benar-benar suci menyambut hari kemenangan,” pungkasnya. (Mushollin)


Editor : Fadilah


Editor: Humas Kanwil
Copyright : Datin Kanwil