Bandar Lampung, Kemenag (Humas) --- Kajian keislaman (kultum) bakda sholat Zuhur pada Ramadhan ke-10 di Masjid Al Amal KanKemenag Kota Bandar Lampung berlangsung penuh khidmat. Kasi Bimas Islam, Zainal Hakim, hadir mengisi sesi dengan semangat yang membakar jiwa. Dalam pesan tausiyahnya ia berkata, "Semoga kita semua bisa menyelami makna Al-Quran lebih dalam dan menjadikannya kompas kehidupan sehari-hari. Sampai bertemu lagi!" Suaranya yang hangat bagai hembusan angin sejuk, mengajak jamaah untuk merenung dan melangkah lebih jauh di fase istimewa ini.
Zainal
menggambarkan 10 hari kedua Ramadhan sebagai oase di tengah padang pasir—tempat
jiwa menemukan ketenangan dari riuhnya dunia. "Ini adalah waktu
emas," ujarnya berseri, "di mana istiqamah menjadi mahkota bagi
mereka yang teguh beribadah, bagaikan pelita yang tak pernah redup di malam
gelap." Ia menegaskan, godaan duniawi akan terasa jauh di belakang,
sementara hati sibuk bersolek menyambut kehadiran Ilahi. "Doa-doa kita di
fase ini ibarat mutiara yang melesat ke langit, disambut langsung oleh rahmat
Allah," tambahnya dengan penuh keyakinan.
Lebih lanjut,
Zainal memotivasi jamaah dengan menyebut fase ini sebagai panggung keajaiban.
"Allah membuka pintu kemudahan, menggandeng kita melangkah ringan hingga
akhir Ramadhan. Iman akan bertunas lebih subur, takwa bersinar di dada, dan
jiwa kita berubah—menjadi cermin kebaikan," tuturnya penuh semangat. Ia
juga mengingatkan, ibadah di masa ini adalah perisai dari maksiat, sekaligus
jalan meneladani Rasulullah SAW dan para sahabatnya—bintang-bintang penunjuk
arah di langit keimanan.
"Wa antaqrobussai’a!" serunya mengakhiri kultum, nada harap terpancar dari setiap katanya. "Semoga 10 hari kedua ini menjadi pijakan emas kita untuk melesat lebih dekat kepada Allah, menyulam Ramadan kali ini dengan ibadah yang indah di mata dan harum di hati. Amin!" Kultum ini meninggalkan kesan mendalam, menggugah jamaah untuk menyambut sisa Ramadan dengan hati yang lebih hidup dan langkah yang lebih mantap. (Mushollin)
